Sebuah Nama, Kemanusiaan dan Selandia Baru.


Saya jadi sering menulis di blog akhir-akhir ini karena momentum peristiwa yang saya anggap penting perlu disampaikan kepada pribadi yang berkenan membaca tulisan-tulisan saya. Atau ya setidaknya dengan menulis isi dalam pikiran-pikiran ini tersalurkan. Foto pada blog ini sendiri juga saya abadikan saat bersepeda keliling kota beberapa minggu lalu untuk menunjukkan kota ini (Mojokerto) pernah terjadi peristiwa pilu. Namun kejadian penembakan brutal di Selandia Baru jumat kemarin menuntun jari-jari saya untuk menuliskan apa yang ada di dalam kepala saya.

Natal 2000
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Saudara Nasrani melakukan ibadah Misa pada malam sebelum Natal. Berduyun-duyun menuju Gereja. Jemaat Gereja Eben Haezer Jalan Kartini No 4, Kota Mojokerto pun demikian. Juga berbagai Gereja di seluruh tanah air. Kondisi saat itu memang sedang tidak kondusif. Beberapa peristiwa merunut bertubi-tubi jauh sebelum perayaan natal tahun 2000 silam. Sampai akhirnya peristiwa nahas pun terjadi. Sejumlah bom meledak serentak di seluruh pelosok tanah air. Menjadikan indonesia terasa sangat mencekam dan memilukan. Korban jatuh tak terhindarkan. Headline surat kabar dan berita televisi juga radio megabarkan yang demikian mencekam.  
Saya sendiri tak ingin membicarakan siapa yang memulai dan bagaimana sampai bisa terjadi. Putusan hukum telah jatuh. Upaya pemerintah melakukan deradikalisasi pada oknum-oknum juga tidak ringan dan secara terus-menerus dilakukan. Meski terkadang melihatnya cukup sedih karena ada embel-embel atas dasar keyakinan yang kuat yang menggerakkan mereka sedemikian rupa.

Riyanto
Tak banyak yang tahu bagaimana almarhum Riyanto yang juga seorang Banser NU memilih nekat mengambil alih bungkusan kresek hitam berisi untaian kabel dari salah satu petugas Gereja karena curiga dan waspada. Benar saja, kecurigaan itu menjadikan moment terkahir beliau menjadi pribadi yang secara naluri sesama manusia adalah saling menjaga, mengasihi, memanusiakan manusia dan menempatkan rasa aman pada setiap interaksi yang terjadi.
Beberapa pihak mengatakan beliau mendekap bungkusan hitam agar tidak meledak dan serta merta melukai jamat gereja namun ada pula yang mengatakan mengamankan bungkusan dan memasukkannya ke dalam selokan agar setidaknya daya ledaknya tidak mengancam area sekitar. Namun berbeda, ledakan bungkusan itu semburat dan mementalkan tubuh beliau beberapa puluh meter dan mengoyak badannya hingga tak dikenali lagi. Sampai akhirnya, nama beliau diabadikan menjadi nama jalan guna memberikan penghormatan dan memberikan pengingat kepada siapa saja yang melewati atau berkepentingan di tempat itu tahu bahwa nama jalan ini adalah pahlawan kemanusiaan yang telah secara berani berusaha memberikan rasa aman dan nyaman kepada saudara-saudaranya yang sedang menjalankan ibadah.

Terorisme
Tak berhenti, kejadian demi kejadian beruntun terjadi tak hanya di Indonesia. Di berbagai belahan dunia bertub-tubi dengan berbagai modus operandi yang kadang tak bisa diterima akal. Berkelompok, berjejaring bahkan sekeluarga. Dengan sasaran-sasaran yang random atau acak dan memprihatinkan.
Terorisme sendiri tidak memiliki difinisi yang pasti secara seragam. Namun yang pasti, terorisme merupakan puncak dari sebuah kekerasan yang memunculkan rasa trauma dan ketakutan yang tidak bisa ditoleransi. Jika dunia seringkali mengekspose pelaku terorisme pada satu keyakinan tertentu. Saya pribadi memandangnya sebagai sebuah propaganda. Apakah kawan-kawan sepakat? Tak harus sepakat. Tapi yang pasti hal yang paling mudah “digoreng” adalah agama. Teori brain storming, brain washing dan hal-hal lain sangat mungkin dilakukan untuk satu tujuan kelompok-kelompok di luar sana.

Selandia Baru dan Respon Dunia
Jumat (15/03/2019) siang waktu setempat, dunia kembali berduka. Boleh saya katakan demikian? Atau hanya sebagian dunia saja yang berduka? Karena masih saja ada pribadi-pribadi tak bersedih atas penyerangan brutal seorang turis yang datang ke sebuah negara dengan visa wisata memberondong jamaah jumat di 2 masjid di Selandia Baru. Puluhan korban jatuh tanpa dosa dan tanpa perlawanan. Dan pelakunya serta tempat terjadinya bukan seperti biasa terjadi. Sangat berbeda. Jauh berbeda. Sebagian orang meyebut pelaku sebagai ekstrimis sayap kanan. Tapi secara tegas Perdana Menteri Selandia Baru dalam siaran pers menyebut pelaku sebagai teroris.
Sehari kemudian, di semua lapisan masyarakat yang setidaknya memiliki pemahaman seperti almarhum Riyanto, melakukan aksi solidaritas menjaga masjid-masjid. Memberikan rasa aman kepada sesiapa saja yang beribadah dan memastikan bahwa semua baik-baik saja. Tidak hanya di Selandia Baru, petugas keamanan di New York juga negara-negara lain berjaga. Memberikan rasa nyaman dan aman.

-----

Tak ada yang berhak menghakimi dan menuntut balas atas apa yang telah terjadi dan berlalu. Rasa aman dan saling menjaga adalah keharusan setiap insan manusia. Namun masih ada saja yang merasa berhak menuntut balas. Maka kemudian, sikap ini akan memunculkan aski teror-teror baru yang tidak akan selesai. Jika ada pihak yang mengklaim berhak menuntut balas dan ada piak yang mengklaim membinasakan sang penuntut balas. Saya hanya bisa mengajak pembaca untuk secara jernih berpikir dan melihat kedua pihak yang mengklaim ini sama-sama perlu di waspadai.
Perdamaian tak pernah muncul jika satu sama lain saling membinasakan. Saling mengklaim berhak menuntut balas atau merespon si penuntut balas. Menghilangkan nyawa dengan alasan kemanusiaan adalah sesuatau hal yang tidak bisa diterima akal sehat. Bagaimana bisa, membinasakan kehidupan manusia lain sebagai alasan kemanusiaan. Merenungi kedukaan dan tidak berbuat berlebihan adalah cara terbaik menentukan apa selanjutnya yang harus dilakukan....
Sebuah Nama, Kemanusiaan dan Selandia Baru. Sebuah Nama, Kemanusiaan dan Selandia Baru. Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 7:35 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.