Hidup di jalanan pilihan mereka

Semalam laju motor saya terhenti di sebuah toko mini market waralaba di salah satu pinggiran wilayah kota, dekat dengan traffic light. Seketika kemudian saya sudah berada di dalam minimarket dan menuju ke lemari pendingin untuk mencari sebotol susu yoghurt beraneka rasa. Cuma memang pilihan jatuh pada satu rasa. Rasa cinta *ehh *fokus *abaikankataterakhir
Malam kemarin pembeli di minimarket cukup banyak akhirnya saya antri diurutan nomer 5 dari 6 pelanggan mini market. Kaca transparan yang memungkinkan dari dalam untuk melihat keluar mengarahkan pandangan mata saya ke anak kecil yang berdiri di luar sebuah mobil yang hendak parkir di depan mini market. Memakai baju terusan warna merah dengan motif bunga kecil-kecil, mengalungkan tas kecil dan sebuah ecrek-ecrek (tutup botol minuman bersoda yang dipipihkan kemudian dipaku ke sebuah batang kayu). Jarak dari dalam mini market ke anak kecil tidak terlalu jauh hanya sekitar 10 meter jadi jelas terlihat.
Kebiasaan saya jarang membawa pulang, seusai membeli langsung saya minum di depan mini market sembari duduk di atas motor atau di kursi yang disediakan. Belum sampai botol terbuka anak kecil itu mendekati saya dan mulai mengayunkan ecrek-ecreknya. Sebuah koin 500 rupiah segera berpindah tangan dan saya bilang "jangan banyak-banyak, nanti kecanduan ngamen". Dalam hati sedih sebenarnya karena melihat yang demikian dan tidak bermaksud menghina.
Setelah receh ditangannya masuk tas kecil selempangnya, dia memilih duduk di samping saya. Saya buka tutup botol yoghurt dan meminum setengahnya. Setengahnya lagi saya berikan. Sambil minum tadi percakapan diantara kami terjadi. Umurnya baru 6 tahun kelas 1 SD di salah satu SD negeri. Menurut pengakuannya, baru mengamen bebrapa bulan ini. 4 bersaudara dan dia anak ketiga. Kakak pertamanya perempuan kelas 6 SMA kata dia (mungkin kelas 3 karena dia tahu jika kakaknya sudah mau selesai sekolah), kedua laki-laki (baru masuk SMA), dan keempat umur 2 tahun perempuan. Dia sendiri anak ketiga.
Tempat tinggalnya di salah satu wilayah kota yang dikenal cukup rawan pergaulan bebas di sisi lain sudut kota dekat dengan sungai besar yang membelah wilayah kota dan kabupaten. Meski tinggal, hidup, berdomisili dan segala proses hidupnya dijamin oleh jaminan sosial kotamadya, dia menjadi masalah di kabupaten karena mengamen di wilayah kabupaten yang berbatasan langsung dengan kotamadya.
Percakapan terus terjadi sambil saya selalu melontarkan kata-kata gak mbujuk a iku?, gak om astagfirulloh temenan iki ( gak bohong itu?, gak om astagfirulloh beneran ini) jawabnya khas anak umur 6 tahun. Bercerita soal ayahnya yang sedang sakit aneh katanya. Badannya bengkak-bengkak dan dia mengamen karena si Ibu menjaga ayahnya yang sedang di rawat di rumah sakit. 
Saya tanya soal berapa lama dia mengamen, dia bilang sepulang sekolah ngaji, les, kemudian baru ngamen setelah magrib sampai jam 9 malam. Ngapain ngamen, dijawabnya cari uang saku, perhari targetnya Rp 30.000,- dan saya ditunjukannya isi tas yang penuh receh dan beberapa uang kertas seribu dan dua ribuan dia bilang jumlahnya paling masih Rp 20.000,-. Pengakuannya pernah tidur di jalan, tapi pulang tepat waktu sebelum jadwal sekolah mulai. Sambil dia berkata, sini tah om meminta saya mendekat. Dia berbisik ibuku banyak hutang. Makin miris saja mendengarnya. Anak usia 6 tahun sampai harus tahu keadaan ekonomi keluarga. Dan lagi-lagi saya berkata gak mbujuk a iku?.
Terus kakak-kakakmu kemana? tanya saya. Ternyata sama, mereka mengamen di lokasi yang berbeda. Dengan keahlian masing-masing kadang berjualan. Menurut pengakuannya Ibu mereka juga melakukan hal sama dan dia berangkat dari rumah naik becak. Mau sampe kapan di jalanan nduk tanya saya lagi? Gak tahu om, jawabnya. 
Tidak ingin menyalahkan siapapun, tapi saya juga belum bisa banyak berbuat. Saya hanya mendoakan mereka segera selesai hidup di jalanan dan menemukan kehidupan yang lebih baik. Pilihan ada di mereka. Sekuat tenaga orang lain mengupayakan, uang jadi tujuan yang tidak bisa diabaikkan.
Sejatinya ini soal rasa syukur saya mengajak teman-teman yang sempat membaca ini juga bersyukur jika kehidupannya lebih baik. Kehidupana yang lebih bisa memilih untuk tidak hidup di jalanan. Aku selalu mencintaimu sahabat #mk #dg #pagidimajapahit

4/10/2016
Hidup di jalanan pilihan mereka Hidup di jalanan pilihan mereka Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 6:00 am Rating: 5

2 comments:

  1. Apa pun pilihan mereka, kita patut untuk menghargai...

    ReplyDelete
  2. iya, seringkali hidup tak selalu berpihak pada kenyataan..
    terimakasih telah berkunjung balik ke blog saya yang masih dalam perbaikan..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.