PANCASILAKU TERSAYAT SEMBILU


Minggu pagi ini sengaja saya khususkan untuk membenahi rumah setelah sepekan terakhir wara-wiri seperti orang sibuk. Atap rumah yang rembes tepat di atas kamar almarhum ibu membasahi semua kasur yang berkali-kali saya jemur. Sungguh berat tapi tak lebih berat dari derita saudara yang sedang kelaparan atau terkait konflik dan perang wilayah. Begitupun aku masih sempat mengeluh dan menghela. Maafkan saya Tuhan yang rajin mengeluh dan lupa bersyukur.
Akhirnya saya putuskan untuk naik ke atap rumah yang biasa lakukan setiap musim penghujan tiba. Rumah keluarga kami tak buruk tapi juga tidak megah namun syukur atas nikmatNYA keluarga saya masih bisa berteduh dari panas dan hujan. Sesampainya di atap rumah, sebongkah kasur ukuran kecil bertengger di saluran pembuangan talang air rumah. Rasanya lelah sekali karena hal ini tidak hanya sekali, tapi berkali-kali mulai dari baju bekas, kasur, hingga kumpulan bungkus makanan. Mungkin saja burung atau kucing ingin membuat sarang yang nyaman di talang pembuangan air rumah keluarga saya. Memilih untuk membersihkan dan diam daripada mempersalahkan keadaan walau sejujurnya ada perasaan jengkel dalam hati. Apa maksud dari rejeki penutupan talang air rumah keluarga saya ini.
Berlanjut membersihkan halaman depan rumah yang lusuh sepeninggal almarhum ibu kami yang belum genap 100 hari. Karena rumah kini hanya ditinggali seorang bujang dan 1 keluarga kecil dengan 1 balita sehingga untuk bisa membereskan rumah saja harus ada yang mendorong kala ibu kami masih ada saat dulu. Tolong bersihkan rumah, begitu pinta beliau baru semua seisi rumah bergerak. Namun sekarang keadaan sudah sangat berbeda.
Lelah tentu saja hinggap setelah panjat-panjat dan angkat-angkat. Sejenak ingin menghilangkan lelah dengan seteguk air minum kemasan sembari membuka-buka media sosial di smartphone. Maksud hati hanya ingin membalas beberapa pesan dan respon yang masuk tapi mata tertuju pada karikatur yang bagi saya amat menyakitkan. Berusaha memahami bahwa mereka tidak paham apa yang saya rasakan atau saudara seiman saya rasakan. Yang berbeda keyakinan silahkan saja sesuka hati, tapi saya harap teman-teman dan saudara seiman saya menahan diri. Yakinkanlah dan besarkan hati bahwa mereka yang berbeda dengan kita tak memahami keberadaan luka di hati kita. Respon saudara yang berbeda keyakinan mungkin hanya sekilas memandang tampak luar sekelumit provokator yang merusak niat baik teman-teman yang lebih banyak membela keyakinan kita.
5 tahun di Bali bukanlah waktu yang sebentar juga bukan waktu yang lama. Diskusi-diskusi mengenai pluralisme dan toleransi selalu berusaha dihadirkan di ruang-ruang publik yang pada kesimpulannya selalu berada pada area yang nisbi dan melayang. Karena dimana mayoritas adalah penentu sikap bagi minoritas. Dan itu bagi saya adalah keniscayaan.
Berharap kepada saudara seiman saya jangan tersulut sumbu peledak ummat, karena keberadaan keyakinan kita adalah rahmat bagi semesta. Memberikan cahaya bagi seluruh ummat manusia YANG MAU menerima sinar kerahmatan Allah SWT untuk menggapai surganya kelak. Semesta bukan hanya bumi saja adalah arena pengejawantahan pengendalian diri ummat atas apapun yang terjadi. Sentimen-sentimen atas agama Islam jangan semakin dikerdilkan dengan reaksi kemarahan yang berlebihan. Sebaliknya, rangkullah mereka-mereka yang tidak paham. Agar keberadaan Islam mulia.
Meski aksi 4 November 2016 TIDAK ADA satupun spanduk atau bendera atau kalimat yang mendiskriditkan keyakinan Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Protestan dan lain sebagainya. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa reaksi di luar Islam memandang Pribadi yang berbuat mewakili Islam. Hal ini karena saudara sesama manusia yang berbeda keyakinan dengan kita tidak paham.
Semakin dipertentangkan akan semakin memunculkan hardik caci maki dan muncratan ludah yang tak kesudahan. Kiranya tulisan ini bermanfaat meredam gejolak hati saudara seiman saya (Islam) menanggapi apapun yang beredar dan respon dari saudara sesama manusia yang berbeda keyakinan. Janganlah menaruh garam pada luka. Anggaplah respon diluar keyakinan saudara seiman saya adalah garam dan kita sedang terluka. Karena cukup pendiri bangsa ini bertaruh nyawa dan darah untuk merumuskan Pancasila namun kini keberadaanya tersayat sembilu. Yang pedihnya mengoyak kebhinekaan kita sebelum ada media sosial dan keberadaan media sosial pula yang menjadikan kita semakin anti sosial dan emosi kita makin mudah datang bertubi tanpa kita sadari lagi. 

Kegiatan awal saya masih harus berlanjut, merapikan rumah peninggalan mendiang alm.bapak dan almh. ibu saya. Kesempatan menulis ini saya segerakan agar tidak ada kemarahan diantara kita semua.

Mojokerto, 6 November 2016

PANCASILAKU TERSAYAT SEMBILU PANCASILAKU TERSAYAT SEMBILU Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 8:37 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.