![]() |
Dua hari, kemarin dan hari ini. Ada peristiwa
yang cukup membuat suhu udara di seluruh wilayah Indonesia menghangat bahkan
cenderung panas tapi sesaat dan hangatnya bertahan lama entah sampai kapan. Kemarin
ada salah satu ormas yang berencana akan dibubarkan. Jelas saya katakan
berencana karena memang pemerintah sendiri mengatakan akan melakukan langkah
resmi lewat peradilan yang belum dilakukan. Dan hari ini putusan vonis kepada
Gubernur DKI Jakarta yang telah cukup banyak menyerap energi sebagian ummat
islam dari segala penjuru Indonesia untuk menyeru dan berkumpul di Ibukota
dengan berbagai aksi damai sebelum jatuh vonis dibacakan siang tadi. Mengenai ormas
yang berencana dibuburkan oleh pemerintah karena dianggap atau diduga bertentangan
dengan ideologi negara, membawa ingatan
saya ke sebuah percakapan empat mata di tahun 2011 dan diskusi pluralisme di
tahun yang sama saat masih jadi mahasiswa tingkat akhir di Denpasar Bali.
Percakapan
empat mata
Sore itu ditemani segelas kopi (ya
benar segelas kopi untuk berdua...irit! ahahaha) dan rokok yang asapnya
menyumbul dari mulut lawan bicara saya. Saya sendiri ikut menyeruput kopi dan
terpaksa menghirup kepulan asap rokok yang cukup menggangu. Saya sendiri tidak
ingat bagaimana percakapan dua orang itu bermula. Sampai pada akhirnya
percakapan kami sampai pada sebuah sistem khilafah dan juga sistem negara islam
indonesia. Dengan menggebu, lawan bicara saya menyatakan. Negara Islam itu
sebuah cita-cita. Yang harus diperjuangkan dalam konteks yang hati-hati dan
terukur. Ada sebagian yang bersabar dengan perlahan membentuk pola-pola dan
benang merah yang menuju kesana. Ada yang terlalu berlebihan hingga membuat
anggapan makar tidak bisa lepas dari pelakunya. Saya hanya mendengarkan seksama
bagaimana gagasan tentang negara islam adalah sebuah cita-cita bagi Indonesia
ini bagi sebagain orang. Cepat atau lambat dan tidak bisa terburu-buru keluar
dari mulut yang tidak lepas dari rokok yang kala berbicara ikut berasap-asap
karena tak ditiupkan tapi keluar bersamaan dengan berbicaranya.
Dalam hati saya selalu berkata, setiap
orang memiliki cita-cita. Secara personal maupun komunal tapi waktu membatasi
manusia untuk menyegerakannya. Usia tidak berpihak pada pribadi-pribadi yang
memenuhi pikirannya dengan nafsu. Nafsu untuk menyegerakan dengan memaksakan
kehendaknya pada orang lain. Berbeda jika kehendaknya dipaksakan pada dirinya
sendiri. Maka ada kemungkinan itu akan tercapai tapi dengan lingkup yang
teramat kecil. Karena jika sebuah cita-cita dirawat oleh sistem itu akan benar
akan terwujud bisa jadi saat motor penggeraknya sudah tidak ada lagi. Sudah tiada
dan hanya meninggalkan nama pada orang-orang yang meyakini cita-cita itu. Maka kemudian
sebagai pribadi seharusnya sadar. Komunal-komunal yang telah terbentuk jika
pada kahirnya disudahi bukan berarti habis waktu mencapai cita-cita. Jika penanaman
pencapaian tujuan itu sudah final, maka penyampaiannya pada setiap jaman tidak
akan berubah. Hanya cara dan polanya yang berubah.
Kemudian percakapan itu berakhir
dengan kopi yang masih tersisa dan asap rokok yang masih mengepul diantara senja
yang mulai datang. Batang rokok yang berbeda! Saran saya buat yang masih
merokok berhentilah! Hahaha..
Diskusi
Pluralisme
Materi atau curahan hati atau artikel
atau apalah namanya terserah, soal ini sudah pernah saya tulis di blog yang
sama. Begini kutipan paragraf pertamanya :
Seperti
halnya sebuah cara berfikir yang tidak sederhana, seperti si pembuat film
dokumenter bahwa cobalah untuk beragama secara biasa dan sederhana. Biasa
seperti apa? Sederhana seperti apa? Sejauh mana batasan dan ruang-ruang jelajah
tentang kebebasan dan kesederhanaan beragama? Karena setiap manusia mencari
sejauh kemampuannya untuk mengukuhkan batasan-batasan imannya. Berbeda cerita
tentang hubungan manusia dengan manusia yang teramat jauh bahkan belum
menyentuh arinya itu berarti masih kulit luarnya dan masih sangat luar. Belum
menyentuh kunci sesungguhnya, tentang bagaimana setiap manusia yang memiliki
kepercayaan dan cara menyatu dalam baur sosio kultural yang tidak bias oleh
kepercayaan masing-masing. Selengkapmya
baca di sini.
Kemudian. Bulan lalu, ketika saya sedang
mampir lagi ke Denpasar saya bertemu dengan orang yang sama. Yang memoderatori
diskusi itu. Percakapan kami berlanjut pada sebuah hal yang belum bisa dikatakan
kesimpulan. Tapi bahwa ada anekdot yang menyeruak diantara kami. Bahwa ketika
kita sebagai mayoritas di Indonesia dan pernah lama di Bali maka kita harusnya
sudah selesai dengan pluralisme dan kebhinekaan. Batas-batasnya jelas. Bagiku agamaku,
bagimu agamamu.
Lantas apa kaitannya mengenai pluralisme
dan batas-batas jelas dengan penjatuhan vonis hukum siang tadi. Saya mencoba
menarik benang merah bahwa betapapun kita memiliki tujuan, manakala kita tidak
berada pada wilayah (frekuensi pemikiran) yang sama dengan lawan bicara atau
mayoritas. Jangan jadikan agama sebagai objek dalam pembicaraan dalam bentuk
apapun. Dan ini bukan final. Dan juga saya tidak mengajak berdebat. Semua kejadian
dan peristiwa ini adalah pembelajaran bagi generasi dan bangsa Indonesia
kedepanya.
Pancasila
Itu Sudah Final Bagi Indonesia
Seperti halnya artikel kedua, beberapa
hal tentang Pancasila bisa dibaca di sini atau ini. Kolonialisme
yang pernah jadi bagian mesra bangsa ini meski membekaskan luka dan pilu sakit
tak terperi, memberi pembelajaran
penting pada pendiri bangsa ini. Bahwa kemerdekaan didapatkan bukan dengan cuma–cuma.
Peluh bukan lagi keringat tetapi darah dan nyawa dari sekian banyak agama,
suku, ras, dan antara golongan. Merelakan tumpah darahnya untuk memberi
kesempatan pada para generasi berikutnya meneruskan cita-cita kemerdekaan. Seperti
pada “percakapan empat mata”. Cita-cita adalah tidak memiliki batas ruang dan
waktu. Karena itu cita-cita bersama. Setiap perjuangan dalam pencapaiannya dikenang.
Meski dalam perjalananya terludahi dan terinjak keserakahan golongan. Cita-cita
kemerdekaan tidak akan pernah mati. Tidak akan pernah berakhir dalam ruang
lingkup ideologi yang telah dirumuskan dengan sangat rumit oleh seluruh
komponen seluruh bangsa.
Mojokerto, 09 Mei 2017
Mojokerto, 09 Mei 2017
PANCASILA ITU SUDAH FINAL BAGI INDONESIA
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:35 pm
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:35 pm
Rating:

No comments: