Kemarin
saya bangun dengan mata sembab karena semalam susah tidur dan pergelangan kaki
pegal karena suatu hal padahal sudah saya beri kehangatan (baca: olesin balsem)
sesaat sebelum tidur namun rasanya masih linu sampai pagi menjelang. Akhirnya
mau tidak mau saya cuekin dan tetap beraktivitas seperti biasa saja. Mau
diapain lagi.
Setelah
semua aktivitas pagi selesai dari bangun tidur tadi, buka hape dan lihat media
sosial. Ikuti perkembangan berita tentang jatuhnya pesawat lion air jt610 di
perarian teluk karawang jawa barat. Sedih pasti, ikut berduka tentu, mendoakan
korban dan keluarga korban iya. Kesedihan dan kedukaan ini benar-benar
bertubi-tubi. Setelah daratan lombok dan donngala serta laut palu bergejolak
tsunami sampai akhirnya udara pun tak luput dari musibah. Sejatinya kita memang
selemah-lemahnya makhluk. Tidak pantas menyombongkan apapun. Darat, laut, dan
udara sudah lengkap jadi teguran kita semua. Sudah ketetapan tanpa ada
kompromi. Tapi sekali lagi bukan berarti kita pasrah tanpa melakukan apa-apa,
karena manusia di beri akal dan pikiran untuk menelaah semua kejadian agar
mengambil hikmah dari setiap keadaan.
Sampai
akhirnya, jari saya tertuju pada 1 akun yang membagikan video tentang
pengalaman seseorang ketika naik pesawat mengalami turbulensi dan mati mesin
juga terjebak di dalam awan hitam sehingga terjadi kepanikan. Bersyukurnya
kondisi tersebut dapat berlalu dan semua penumpang selamat setelah pesawat
mampu mendarat. Yang menjadi menarik adalah komentar yang ada di akun pembagi
video ini. Banyak sekali hujatan dan celaan, ini hoax, tida ada rekaman yang
tersebar dan seterusnya, padahal di keterangan video sudah dijelaskan jika
rekaman tersebut memang bukan berasal dari jatuhnya pesawat kemarin. Pembagi
video memberikan keterangan bahwa agar selalu hati-hati dan apapun bisa terjadi
serta jangan mengabaikkan arahan keselamatan penerbangan meski bila terjadi
sesuatu yang buruk kondisi di atas (terbang) tidak serta merta arahan
keselamatan dapat menolong namun dapat meminimalisir kondisi yang lebih gawat.
Sejatinya
terbang bagi manusia itu juga sudah bertentangan dengan hukum alam. Melawan
gravitasi namun tidak perlu berontak secara berlebihan. Karena semuanya telah
diperhitungkan oleh pribadi-pribadi yang mampu memberikan solusi meminimalisir
resiko saat proses perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain
melalui jalur udara. Adapun jika terjadi kecelakaan, itu adalah bagian dari
resiko yang harus diterima dengan cara yang benar seperti penguatan regulasi
penerbangan oleh badan terkait, fasilitas penyelamatan atau evakuasi jika terjadi
hal-hal di luar kendali, manajemen resiko, dan lain sebagainya.
Setelah
membaca komentar-komentar yang tidak karuan saling menghujat ada juga
pihak/oknum yang masih saja sempat memperdebatkan pandangan pibadinya
masing-masing. Seperti ketika dalam video terekam suara penumpang yang berdoa
dan meneriakkan takbir, hal ini dimanfaatkan untuk mengaburkan tujuan awal
video ini dibagikan oleh pemiliknya. Oknum tersebut mengatakan “tuh denger,
kalo ada musibah takbir, berdoa bukan teriak NKRI harga mati”. Apakah kamu
(pembaca tulisan ini) termasuk yang sepakat dengan komentar oknum tersebut?.
Bisa jadi kita berada di frekuensi yang berbeda (belum sama) mengenai beragama
dan bagaimana bernegara!. Lain waktu semoga saya punya kesempatan menulis
mengenai topik beragama dan bagaiamana bernegara menurut versi saya.
Namun
begitu, rasanya memang bangsa kita sedang dalam keadaan yang kurang kondusif.
Memasuki tahun politik, musibah beruntun, serta dinamika pemikiran yang sangat
kuat karena pengguna media soisal kita yang reaktif sekali dengan kabar beredar
tanpa melakukan konfirmasi atau pandangan sebelum bereaksi.
Dan
memang prinsip hidup masyarakat jawa menjadi pedoman penting belakangan ini
untuk mendapati pola hidup yang damai dan seimbang. Ojo Gumunan, Ojo Getunan,
Ojo Kagetan, lan Ojo Aleman (jangan mudah heran, jangan mudah menyesal, jangan
mudah terkejut, dan jangan mudah mengeluh). Bisa jadi, reaksi yang ada di kolom
komentar media sosial adalah cerminan diri kita yang berada dalam tekanan dan
“gemes” serta gumunan, getunan, kagetan, aleman.
Ingin
mengajak setiap kamu yang membaca tulisan ini, yuk sama-sama kita belajar
menyeimbangkan hidup. Setiap orang memiliki versinya, begitupun saya juga anda.
Karena fitrahnya manusia ingin tenang dan menjalani aktivitas secara normal dan
baik-baik saja. Jika ada yang tidak nyaman dengan ketenangan dan ruang sosial
yang baik. Bisa jadi pribadi tersebut sedang berada di ambang kondisi stres
atau tekanan psikologis yang tidak normal.
Heran...
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
9:57 am
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
9:57 am
Rating:
