Pria Jawa, Beskap, dan Modern Era

Beruntung saya memiliki garis keturunan seseorang yang di dalam tubuhnya mengalir darah. Ibu dan bapak saya merupakan 2 manusia yang ditakdirkan di dalam tubuhnya mengalir darah pada pembuluh darahnya. Benar, darah mengalir di tubuh saya. Kalau tidak ada darah bagaimana diri ini bisa hidup dan berjumpa dengan kalian semuaaa.. hehe :D. Jangan terlalu serius.
Dalam sebuah idiom, setiap siapa yang memiliki garis keturunan bangsawan baik itu raja-raja nusantara maupun raja-raja di tanah jauh (asia timur, asia barat, eropa, dan lainnya) disebut sebagai keturunan darah biru yang mengisyaratkan kedudukan sosial di masyarakat. Namun, pada tulisan kali ini kita tidak membahas tentang darah biru. Karena nanti akan panjang. kita bahas tentang daya tarik pria jawa dan pernak perniknya ya :D.

Pria Jawa
Dalam banyak kesempatan, pembahasan tentang pria jawa bisa sangat menarik bila dikaitkan dengan kehidupan sehar-hari. Terutama ya bagi yang memandangnya demikian. Bukan bermaksud rasis tentang SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan) dan mengabaikkan pria-pria lain di luar sana. Setidaknya tulisan ini bisa jadi media narsis bagi diri sendiri. Memuji diri sendiri, daripada tidak ada yang memuji hihihihi :D.
Pria Jawa (.a) “Makhluk hidup dan/atau mamalia binocular yang pada umumnya memiliki perangai penyabar, unggah-ungguh (sopan, menghormati), bijaksana, ramah, ngemong/momong (menjaga, melindungi, memelihara), nerimo ing pandum (ikhlas, legowo), murah senyum, dan cenderung mengalah.
Definisi di atas jelas tidak dapat digunakan untuk rujukan karya ilmiah apalagi dimasukkan dalam jurnal penelitian filosofi jawa. Kalau ada yang memasukkan dalam skripsi atau jurnal ilmiah benar-benar kebangetan kamuuuuu.. hehe. Itu adalah rekaan yang bisa jadi diaminkan bersama untuk sebagian besar pria jawa di luaran sana. Menjadi daya tarik bagi sebagian orang kaitannya dengan mencari pendamping hidup atau falsafah nilai-nilai kehidupan yang orang jawa sendiri bisa jadi tidak semua memiliki sifat demikian karena sulit untuk diterapkan. Munculnya pemahaman demikian bukan karena sifat dasar dari pria jawa itu sendiri. Dalam pandangan saya, sifat-sifat (kepribadian) yang tertulis tersebut sejatinya muncul karena adanya lingkungan sosial maupun juga genetis (keturunan) yang memungkinkan membentuk karakter tersebut pada pria-pria jawa.

Secara singkat dalam teori psikologi, ada 3 faktor penentu kepribadian seseorang (Stephen dan Timothy, 2008:127) yaitu :
1. Faktor keturunan (genetis), kromosom menurunkan perilaku dalamm hal keseimbangan hormon.
2. Faktor lingkungan (sosial) dapat membentuk dan memberi tekanan pada kepribadian seseorang. Dimana dia dibesarkan, norma keluarga, pergaulan, serta kelompok sosial.
3. Faktor situasional, dalam hal ini seorang atau individu bisa mengalami perubahan sikap atau kepribadian secara mendadak dari stabil menjadi tidak stabil merujuk pada lingkungan sosial dimana dia berada.

Jadi memang kecenderungan pria jawa dalam ruang lingkup lingkungan, genetika, dan situasi telah menempatkan atau memposisikan diri pada hal-hal yang menjadi kebiasaan masyarakat jawa pada umumnya. Namun dapat berubah atau bereaksi berbeda karena situasi tertentu.

Beskap
Secara harafiah, beskap bermakan jas tutup. Merupakan sejenis kemeja pria resmi dalam tradisi Jawa Mataraman untuk dikenakan pada acara resmi atau penting. Berbentuk jas terdiri dari 3 komponen yakni :
1. Blangkon
2. Baju bagian dalam dan jas, jarik (kain batik dengan lipatan tertentu pada bagian depan).
3. Selop.

Ketiganya dirangkai menjadi satu bagian. Dilengkapi dengan keris yang diletakkan di bagian belakang tubuh pengguna. Selain pada prosesi penting, penggunaan beskap juga dipakai oleh abdi dalem (orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan raja dengan menaati segala aturan dan batasan yang ada).

Dalam perkembangannya, terjadi komodifikasi yang signifikan terhadap beskap dalam penggunannya. Kini menjadi properti pendukung pada setiap pernikahan (terutama adat jawa mataraman). Pemaknaan masyarakat mengenai pernikahan diibaratkan sebagai raja sehari menempatkan beskap sebagai komoditi atau properti pendukung yang menarik. Selain menjaga tradisi, hal ini mampu memberikan kesakralan ritus dalam prosesi pernikahan itu sendiri. Beskap juga bisa digunakan oleh masyarakat umum sebagai moment-moment khusus perkantoran, hari besar nasional dan acara-acara umum.

Modern Era
Merujuk pada 2 sub judul di atas, kita menjadi paham. Ada hal yang tidak bisa kita batasi yakni perkembangan jaman. Nilai atau ritus tradisional secara substantif tidak dapat secara kaku diterapkan. Keberadaanya menjadi selaras, serasi, dan seimbang dengan penyesuaian-penyesuaian pada hal-hal tertentu.
Tingginya peningkatan populasi serta mudahnya akses informasi, transportasi, perpindahan penduduk, asimilasi budaya, komodifikasi komoditas, disorientasi kebudayaan, perkembangan pola pikir dan tipisnya batas tabu dan tidaknya suatu hal cukup besar pengaruhnya terhadap hal-hal tersbut di atas seperti kepribadian tulen pria jawa dan penggunaan beskap pada yang seharusnya. Ini juga berpengaruh pada hal-hal lain sebagai sebuah kepastian yang hanya tinggal menunggu waktu.
Pria Jawa, Beskap, dan Modern Era Pria Jawa, Beskap, dan Modern Era Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 2:28 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.