Q : marketplace
Dungting (nada dering
pesan WA berbunyi)
Q : Salam, kami dari
***** (menyebut nama marketplace)
S : Betul, ada yang
bisa dibantu?
Q : Ini dengan
****leather (usaha kerajinan kulit yang 2 tahun terakhir ini vacum, sedih euy)
S : Benar.
Q : Kami ingin
menawarkan kakak untuk bergabung dengan kami jika berkenan (sambil menjelaskan
marketplace dan sebagainya).
S : Oh iya, nanti
jika berminat akan saya hubungi kembali ya.
Q : baik,
terimakasih.
Percakapan ini
terjadi sekira 3 tahun silam ketika baru saja mencoba kerajinan kulit sapi.
Sebuah startup marketplace kerjainan yang baru pertama kali saya dengar. Ada
niat baik dibalik adanya start up ini. Menghimpun dan mewadahi
pengrajin-pengrajin agar memiliki satu tempat untuk memperkenalkan produknya.
Waktu berjalan, dan marketplace ini beberapa kali di undang di beberapa
talkshow dan terlihat semakin jauh berkembang. Saya sendiripun tidak ada
masalah dengan hal demikian. Jaman terus berkembang, inovasi juga dibutuhkan.
Keberdaanya sedikit banyak membantu para pengrajin untuk memasarkan
dagangannya.
Selang beberapa bulan
setelah saya dihubungi, ternyata cukup banyak pengrajin yang telah bergabung
dengan marketplace ini. Ada beberapa jenis kerajinan yang dikelompokkan sesuai
jenisnya. Secara umum hampir sama dengan marketplace barang-barang umum hnaya
saja ini khusus untuk segmen kerajinan tangan. Tapi sampai pada satu waktu,
saya sendiri mengalami kegundahan yang teramat sangat. Melihat banyaknya produk
yang hampir mirip bahkan sama secara bentuk, dimensi, dan hal-hal lainnya. Yang
berbeda hanya nama pengrajin atau merk dagangnya saja. Kegundahan ini
dilatarbelakangi oleh harga antar produk yang bersaing ketat dan bahkan ada
yang mengambil pilihan menjual produknya di bawah harga pasaran.
Kondisi ini tidak
hanya terjadi di 1 marketplace ini saja sebenarnya, namun juga marketplace
lain. Yang para mitranya menjual komoditi yang sama. Yang jelas ketika barang
yang dijual adalah kebutuhan harian atau benda-benda pemenuh kebutuhan hobi,
bisa saja para penjual memberi harga bersaing dengan yang lain. Karena yang
menentukan adalah pembeli. Pembeli bisa menentukan dari kota terdekat pedagang,
biaya kirim, atau kota penjual bisa saja jauh harga lebih murah namun biaya pengiriman
lebih murah atau bahkan penjual jauh, biaya kirim juga ternyata murah dibanding
penjual dari kota terdekat dari pembeli.
Berbeda dengan
e-commerce sebuah penjual jasa atau barang yang mendapat atau mengambil
keuntungan dari selisih penjualan harga barang atau biaya jasa produknya,
marketplace adalah sebuah platform penjualan bersama. Yang secara awam dipahami
“toko online” rame-rame atau “pasar online”. Siapa saja bisa jualan apa saja
dengan mendaftar menjadi mitra marketplace terkait. Bersaing dengan lebih
banyak pedagang di seluruh regional marketplace itu beroperasi bahkan pasar
internasional jika marketplace itu adalah marketplace dunia.
Menyatakan bangkrut
Dengan sedikit kaget
dan mengernyitkan dahi saya membaca sebuah headline
berita surat kabar online nasional kemarin (6/03/2019). Marketplace yang dulu
pihak marketingnya pernah menghubungi saya, menyatakan diri mengalami posisi
yang setiap pelaku usaha tak ingin mengalaminya. Saya sendiri sejak beberapa
tahun terkahir tidak mengikuti perkembangannya. Hanya sesekali membaca liputan
mengenai marketplace ini mengalami kemajuan dan hal-hal baik lainnya. Saya
bersyukur akan hal itu meski tak punya hubungan apapun. Aneh ya? :)
tidak juga. Menjadi senang atas kemajuan orang lain dan ikut prihatin ketika
orang lain terjatuh itu adalah hal manusiawi.
Tidak mudah memang
membangun sebuah marketplace apalagi dengan cerug pasar nasional yang saya kira
tidak semua orang tertarik. Komoditi yang ditawarkan adalah produk ekskulif
menurut pandangan saya. Perputarannya bisa sangat cepat jika produk yang dijual
oleh mitra telah memiliki “nama” di mata pelanaggannya. Tapi tidak juga
menjamin mitra yang lain dapat bertahan dengan persaingan yang terjadi
lebih-lebih perang harga. Karena memang yang memilih menjadi mitra marketplace
harus membuka lebar informasi harga jual dan lain sebagainya mengenai produk
yang dijualnya.
Langkah promosi yang
biasa diambil oleh sebuah marketplace biasanya promo harga murah, flase sale (penjualan kilat), tanpa
baiya pengiriman, dan lain sebagainya. Maka mau tidak mau, sebauh marketplace
“dituntut” untuk menawarkan produk e-commerce nya pada investor yang memilki
minat menyuntikkan dana sebagai baiya pengganti subsidi yang telah di tawarkan
oleh marketplace ke pembeli.
Pendapatan
Potensi pendapatan
sebuah marketplace bisa diperoleh dari beberapa hal seperti pemasangan iklan
pada situs atau aplikasi, fasilitas premium yang ditawarkan oleh pihak
marketplace kepada mitra misalkan saja untuk menempatkan produk yang dijual di
posisi pertama atau tampilan utama selama beberapa waktu tertentu dengan
membebankan biaya pada mitra, dan cara-cara lain yang mungkin bisa dilakukan.
Meski demikian, tidak ada yang mudah untuk mengelola sebuah marketplace.
Apalagi dengan mengkhususkan di cerug pasar komoditi tertentu.
Sama halnya dengan
situs-situs penjualan atau bahkan berita online yang juga menggunakan fasilitas
yang sama, dibutuhkan sumber daya yang sangat besar terutama sumber daya
finansial untuk setidaknya membuat sebuah e-commerce bertahan dari persaingan
keberadaan e-commerce lain. Trafic pengguna, mitra, dan pengunjung yang harus
terus meningkat atau setidaknya stabil hingga jangka tahun tertentu sampai pada
akhirnya nilai dari e-commerce tersebut menigkat. Dan itu tidak sederhana.
Sangat rumit.
Setidaknya seseorang
di balik marketplace antimainstream ini telah dengan gagah berani mengambil
sebuah resiko besar pada saat ketika pertama kali mencetuskan produk e-commerce
nya. Mengambil jalan terjal dan tidak mudah untuk ada pembeda diantara marketplace
yang telah eksis. Semoga, ada jalan keluar dari sebuah kebuntuan yang terjadi.
Terburuk marketplace ini benar-benar menutup semua operasionalnya dan
melepaskan semua mitra dan pembeli yang selama ini telah setia berjalan
bersamanya.
Marketplace bukan Price War Place
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
11:24 am
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
11:24 am
Rating:

No comments: