SEMBARANGMU DEWE! Dan Kewarasan Interaksi Sosial


Ungkapan keponakan ketika berumur sekitar 4 tahun sekira setahun lalu. 
.....
Kalau sudah ribet dan tidak mau ambil pusing dengan percakapan yang membingungkan dan terlalu panjang. Dia akan seketika melontarkan ungkapan ini “sembarangmu dewe” pada lawan bicara atau terserah kamu versinya dia haha. Namanya juga anak-anak (eh tapi ini bukan ditujukan untuk menilai wajar ya ibu-ibu, jangan pada ngegas dulu dengan istilah “namanya juga anak-anak” hihihhihi). Orang-orang di rumah tetap mengingatkan. Tidak boleh seperti itu nduk, ga sopan. Nanti malu kalau banyak di dengar temen-temen.
Ketika melihat fenomena saling hujat dan sangat mudah melontarkan cacian di kolom komentar, kalimat ini bisa jadi ampuh untuk menahan diri kita ikut terjerumus dari rusaknya respon-respon di media sosial yang seliweran. Terkadang sikap mengabaikkan juga harus kita kuasai dan kendalkan. Pada saat seperti apa sikap ini perlu kita pakai atau tidak kita pakai. Seperti saat saya merespon sebuah judul berita kemudian ada diantara netizen yang berkomentar mengatai saya gobl*k dan tol*l, seketika itu juga rasanya ingin marah tapi lantas saya berfikir. Ini saya tidak kenal, kenapa harus pusing. Cara tercepat yang bisa kita lakukan “mute” percakapan.
Era digital dan mudahnya akses internet (media sosial) memberikan atau menghilangkan batas kesopanan yang kita miliki pada orang yang tidak kita kenal secara pribadi. Membuat rumit ruang interaksi sosial dan menanamkan dendam kesumat tak kesudahan. Tak ada manfaat sejatinya.
Berbeda dengan ketika kita ingin bercanda dengan teman kita kemudian tersinggung, mungkin level bapernya tingkat tinggi. Jadi kita harus lebih menahan diri. Introspeksi diri, salahnya kita dimana. Sedangkan dengan orang-orang yang tidak kita kenal kemudian tiba-tiba “nyamber” pendapat kita, kalimat “sembarangmu dewe” bisa dijadikan tameng agar kita tidak terlalu baper pada situasi saat itu juga (spontan).
Kecenderungannya memang, ketika emosi respon tercepat kita adalah mencaci maki balik atau berperang komentar (tweet war) dan menurut saya ini tidak lazim. Kewarasan kita dalam berinteraksi di uji di era internet tanpa batas walau kadang-kadang signal kita naik turun membuat buffering begitu lama hingga akumulasi emosi bertambah dan mencari pelampiasan (hihi curhat). Maka kata kunci untuk melakukan relaksasi pikiran adalah diawali dengan menarik nafas panjang melalui hidung sembari mengucapkan kalimat “SEMBARANGMU DEWE” dan melepaskan sisa nafas ditiupkan dari mulut. Ya seperti layaknya latihan pernafasan Yoga begitu kira-kira hehehe.

Mojokerto
2019/01/30
SEMBARANGMU DEWE! Dan Kewarasan Interaksi Sosial SEMBARANGMU DEWE! Dan Kewarasan Interaksi Sosial Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 10:45 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.