Cahaya Purnama Itu Telah Terbit (Panggil Saya BTP bukan Ahok)

Kira-kira demikian narasi yang terlihat menjelang selesainya proses pertanggung jawaban seorang Basuki Tjahaja Purnama (selanjutnya disingkat BTP) selama kurang lebih 2 tahun di rutan Mako Brimob kemarin (24/01/2019). Tulisan ini dibuat tidak untuk menyorot kasus hukum serta proses pertanggungjawaban hukum yang dilalui oleh BTP. Akan terlalu banyak perdebatan di dalam perbedaan yang membuat kita semakin tidak produktif jika membahas mengenai hal itu. Meski perbedaan adalah sebuah fitrah kehidupan, namun banyak dari kita yang menyikapinya terlalu emosional dan berlebihan serta tidak memberikan nilai tambah pada masin-masing kita sebagai makhluk yang beradab.
Dalam tulisan ini, kita akan mencoba mengulas dari sisi rebranding “Panggil saya BTP bukan Ahok”. Sejatinya proses ini sudah dilakukan sejak Agustus 2018 lalu ketika BTP meluncurkan sebuah buku “Kebijakan Ahok” yang diwakili oleh salah satu putranya dan menyampaikan surat titipan di akhir kalimat suratnya kurang lebih “Semoga Tuhan memberi kita damai sejahtera dan keadilan. Salam BTP. Catatan, panggil saya BTP”. Kemudian kembali dipertegas dengan surat yang ditulis BTP menjelang proses bebas murninya yang kemudian di posting oleh tim BTP di akun media sosial yang diakhir lembar pertama suratnya berbunyi “Saya mohon maaf dan saya keluar dari sini dengan harapan panggil saya BTP bukan Ahok.
Surat yang sebagian besar berisi ungkapan syukur serta permintaan maaf dan harapan BTP menjelang proses keluarnya dari Rutan Mako Brimob juga menerangkan dirinya jika diberi kesempatan memilih 2 tahun lalu akan memilih untuk yang telah terjadi saat ini sehingga dia lebih bisa menguasai diri ketimbang terpilih kembali dan berkuasa di balai kota selama 5 tahun yang akan membuatnya semakin arogan dan kasar juga menyakiti hati banyak orang.
Menyoal mengenai rebranding yang dilakukan oleh BTP mengenai panggilannya adalah sesuatu yang lazim terjadi mengingat panggilan “Ahok” yang telah lama disematkan padanya telah melalui jalan terjal di masa sebelumnya. Hal ini biasa terjadi untukmemberikan penyegaran dan/atau sudut pandang baru mengenai sosok serta pribadinya. Ada sebuah tujuan pastinya dibalik harapan seorang BTP untuk menanggalkan dan meninggalkan masa lalunya dengan panggilan akrab “Ahok” yang telah melekat kuat di masyarakat.
Kita akan sama-sama melihat bagaimana proses kerja tim BTP dalam melakukan rebranding ini. Dari sisi mana repositioning sosok seorang BTP akan diperkuat atau diseimbangkan di mata masyarakat. Sehingga khalayak mampu menilai bahwa seorang BTP adalah pribadi baru yang dulunya dengan berbagai kontroversi dalam kebijakan serta keterlibatannya dalam pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif. Yang kemudian, setelah melalui proses penguasaan diri yang disampaikannya dalam surat bisa menempatkan sosok BTP kembali di dalam masyarakat.
Setiap pribadi, setiap kita, setiap institusi baik pemerintah maupun swasta dan setiap apapun yang bernafas dan hidup memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya. Satu hal yang pasti dalam setiap perubahan, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang (meskipun berubah baik) tapi sangat bisa membuat semua orang tidak suka/senang terhadap kita (tidak berubah atau menjadi buruk).

Mojokerto, 25/01/2019

Cahaya Purnama Itu Telah Terbit (Panggil Saya BTP bukan Ahok) Cahaya Purnama Itu Telah Terbit (Panggil Saya BTP bukan Ahok) Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 11:39 am Rating: 5
Powered by Blogger.