Sayup-sayup dari kejauhan suara dari sebuah sound system terdengar makin mendekat. Suara samar itu semakin jelas sebuah lagu anak-anak yang diputar melalui pemutar cakram yang terpasang di sebuah odong-odong dengan berbagai macam hiasan. Beberapa kali odong-odong lewat didepan rumah di hari sabtu yang cerah. Beberapa lagu anak-anak seperti naik delman, abang becak, naik kereta api, abang tukang bakso, dan lainnya berulang kali diputar untuk menarik perhatian para balita. Begitu seterusnya hingga beberapa kali saat matahari mulai berada di atas kepala. Kemudian suara itu berlalu dan tidak kembali. Sepertinya, pelanggan hari ini sudah cukup mengisi kantong pengayuh odong-odong dan bergerak menuju lokasi lain untuk mencari pelangan.
Hari berlalu cepat, beberapa jam terlewati. Sinar
matahari mulai condong ke ufuk barat meninggalkan keramaian menuju ke belahan
bumi lainnya. Kumandang adzan magrib meramaikan sepinya jalan desa yang
ditinggalkan penduduknya menuju ke dalam rumah, sebagianm lain bergegas menuju surau
terdekat hingga semua usai. Makan malam dengan rejeki hari ini patut disyukuri.
2 adik sepupu yang berusia 7 tahun dan 5 tahun sedari siang dititipkan di rumah
karena orang tuanya sedang ada perlu ke luar kota. Memang biasa demikian.
Seperti hari-hari biasanya, keduanya sedikit rewel dengan terus bertengkar
memperebutkan makanan, mainan, dan acara tv. Saling pamer satu sama lain dan
bermanja-manja dengan kakak iparku yang selalu mengiyakan permintaan mereka.
Jarum jam dinding melaju tanpa sungkan sekitar. Beberapa
menit berlalu. Setelah beberapa bulan terakhir tidak pernah menyalakan televisi,
tiba-tiba jempol bergerak lincah mencari-cari chanel televise diantara belasan
chanel yang televisinya bersaing dengan semut. Angin kencang, seringkali
merubah arah antena konvensional. Acara anak-anak membuatku tidak bisa mengelak
dari permintaan 2 sepupu yang sedang berada di rumah. Akhirnya chanel berakhir
di acara kartun yang ditokohi sebuah spons dan bintang laut serta beberapa
hewan laut lain.
Singkat cerita, kartun favorit sepupu sudah
berakhir. Jempol kembali bergrilya mencari acara yang barangkali bisa member sedikit
informasi baru. Setelah beberapa lama, 1 chanel program entahlah apa namanya
tapi selalu bagi-bagi uang dengan penonton yang heboh dengan dandanan dan
penampilan. Pembawa acaranya juga full dalam satu panggung. Menunggu beberapa
menit, acara dibuka normal oleh presenter televisi yang “gerudukan” dan
kesemuanya mengaja bernyanyi. Daaannnn.. jreeng, inilah lagu yang sedang
diributkan di media sosial selama ini. Yang jujur saja saya baru tahu beberapa
hari belakangan. Tanpa dikomando, sepupu yang masih ingusan serempak bernyanyi.
Saya terheran dan w.O.w….
Setelah saya lihat judul lagunya ternyata bertajuk “oplosan”.
Beberapa kali mendengar lyric yang dinyanyikan, sebenarnya bermaksud baik untuk
mengajak orang tobat dan menjauh dari oplosan minuman keras yang tidak ada
gunanya. Tapi seringkali penyajian musik dangdut koplo tak asyik bila tidak
diiringi joget yang uedan tenan. Disinilah saya mulai bertanya pada keberadaan
lagu-lagu yang secara mudah menginfluence semua jenis usia audience. Apalagi frekuensi
tampilan dalam kurun waktu tertentu di media nasional. Jelaslah membuat lagu
anak-anak (seperti : naik delman) kalah bersaing. Bila berfikir bijak, benar
bila segmen konsumen acara-acara ini untuk kalangan tertentu juga sebaliknya
ada acara-acara yang dibentuk sedemikian rupa untuk mengakomodir kelas
masyarakat yang lain. Pada akhirnya, semua kembali pada para penonton dan
penikmat. Seringkali, pro kontra juga perlu dibentuk guna mendongkrak kebutuhan
sebuah media. Pertanyaanya, mungkinkah lagu anak-anak bisa ditempatkan pada
hati anak-anak dengan cara yang sama? Tentu tidak. Selamat berjoget untuk
pecinta koplo dan selamat naik odong-odong untuk para pencinta lagu anak-anak.
OPLOSAN vs NAIK DELMAN
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:30 pm
Rating:
No comments: