Tidak terlambat bukan?

Artikel ini seharusnya jadi postingan di blog beberapa bulan lalu, tapi saya baru sempat mempublishnya hari ini setelah  kembali membuka-buka deretan buku bacaan di perpustakan super mini alias bukunya masih terbatas yang kumiliki. Semoga hal ini tetap bermakna untuk diri saya terutama sahabat pembaca sekalian. Diantara deretan buku yang berjajar di atas sebuah lemari dan meja belajar yang kumiliki, ada satu buku yang saya rasa bagus untuk membuka cara berfikir tentang kehidupan.

Ini berawal dari sebuah seminar yang informasinya saja kudapatkan dari salah seorang motivator juga pengusaha percetakan yang mentereng se-Jogjakarta bahkan Indonesia karena cabangnya sudah dimana-mana. Informasi itupun tidak secara langsung saya dapat. Hanya melalui kicauan harian yang ada di salah satu jejaring sosial beliau. Sebagian banyak orang memanggilnya mas saptu.
Sebuah seminar bertema kewirausahaan sosial yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi swasta di kota Surabaya dengan pembicaranya para pengusaha penggagas gerakan sosial. Untuk bisa ikut seminar, harus invest dan konfirmasi ke seorang panitia. Tanpa ragu, sayapun melakukan registrasi dan konfirmasi kehadiran dengan berkirim pesan pendek. Sampai pada akhirnya seminar berlangsung beberapa jam. Dalam seminar tersebut, disisipkan sebuah acara launching buku serta sedekah dadakan.
Beberapa hari berlalu. Singkat cerita, tiba-tiba saja ingatan ini terfokus pada satu nama yang menjadi panitia penerima registrasi peserta. Sembari berharap, saya mencoba mengirimkan pesan pendek ke nomer telepon selular yang sama ketika waktu melakukan registrasi peserta seminar. Mencoba mengingat-ingat kembali orang yang melaunching buku dan panitia registrasi memiliki nama yang sama. Tanpa berlama-lama, sebuah pesan pendek saya kirimkan sembari berharap nomer telepon selular yang dipakai tidak berganti (biasanya, dalam kepanitian, seusai acara lazimnya no.hp tidak lagi dipakai alias dinonaktifkan). Ternyata pesan pendek yang saya kirimkan berbalas. Sumringah diriku mendapati keadaan tersebut.
Percakapan via pesan pendek berkutat tanya jawab mengenai bisnis yang sedang dijalankan oleh Mbk C (saya memanggilnya demikian, inisial dr nama panggilannya) juga cerita tentang awal mula bisnisnya dimulai. Dengan kesibukannya, Mbk C masih menyempatkan waktu untuk sekadar membalas pesan singkat yang saya kirimkan. Sampai pada suatu hari Mbk C menghadiahkan sebuah buku karangannya yang baru dilaunching saat itu. Bukunya dirimkan melalui paket dari Surabaya. Buku yang didalamnya berbagi inspirasi, bercerita tentang sepenggal perjalanan kehidupan Mbk C dalam mengukir prestasi, jatuh bangun menyelesaikan problematika hidup, serta bisnisnya. Sebuah buku dengan judul "Melukis Kehidupan Bersama Sang Pencipta" meluncur langsung dari tangannya menuju alamat rumah saya melalui jasa paket barang. Teman-teman bisa menemui Mbk C (Ester Claudia Windasari Wijaya) di akun jejaring sosialnya. juga bisa pesan bukunya langsung ke yang bersangkutan. 
Semoga bermanfaat. Tidak terlambat bukan untuk menyampaikan hal ini? Terimakasih sekali lagi untuk bukunya Mbk C. Salam sukses dan sehat selalu.
Tidak terlambat bukan? Tidak terlambat bukan? Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 3:20 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.