Cukuplah Satu Bila Dua atau Tiga Buat Tak Nyaman



Pekan lalu, saya berkunjung ke salah satu kabupaten di selatan Kalimantan Tengah. Sebuah wilayah yang sedang menggeliat dengan pembangunan dan eksplorasi kekayaan budaya dan potensinya. Sebuah kabupaten yang memiliki julukan Kota Air, ada yang tahu? Kabupaten Kuala Kapuas jawabannya. Itu adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Kalimantan. Sebuah wilayah yang memiliki ribuan sungai juga tradisi yang pastinya menarik. Melalui bandara Juanda – Surabaya dengan tujuan bandara Syamsudin Noor – Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Lho, kok lewat Kalimantan Selatan kan tujuannya Kalimantan Tengah? Apakah ada pertanyaan yang demikian. Tidak lain jawabannya karena jarak tempuh Banjarmasin – Kuala Kapuas (berikutnya akan saya sebut Kapuas) lebih dekat dibanding dari Palangkaraya yang notabene ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Bila Banjarmasin – Kapuas hanya membutuhkan waktu kurang lebih 60 menit sedangkan melalui Palangkaraya waktu yang dibutuhkan lebih dari 120 menit. Singkat cerita, kepergian saya ke Kapuas adalah untuk berkunjung ke keluarga. Disisi lain, selalu ada banyak hal yang bisa jadi bahan pembelajaran bila kita pergi ke satu tempat yang baru.
Penerbangan sore itu terjadwal 15.15 WIB dan mengaharuskan pengecekan tiket beberapa jam sebelumnya. Usai melakukan pengecekan tiket, saya menghabiskan beberapa menit di ruang tunggu gate 1 bandara Juanda. Disela menunggu itulah, kebetulan ada seorang bapak paruh baya berusia lebih dari 55 tahun yang merupakan seorang pensiunan korps baju coklat yang sedang mengambil liburan dari tempat kerjanya. Tanpa diminta, yang bersangkutan bercerita panjang lebar mengenai masalah kehidupannya. Selepas pensiun beliau bekerja di tambang batubara hingga harus meninggalkan keluarga di Semarang, serta pulang pergi Banjarmasin – Semarang dengan kapal feri maupun pesawat. Sampai pada akhirnya, beliau bercerita tentang istri mudanya yang masih berusia 30-an diusianya yang lebih dari setengah abad dan memiliki cucu di kota asal keluarganya. Yang membuat saya heran dan terus tetap mendengar, beliau berkata selalu berusaha menjaga kerahasiaan tersebut dari istri pertamanya. Para pembaca pasti bisa menarik kesimpulan status pernikahan keduanya.
Berkaca pada cerita beliau, Judul tulisan yang saya ambil jelas tergambar dan bisa dipahami oleh pembaca sekalian. Seringkali saya mendapati fenomena ini, di lingkungan sekitar saya, teman saya, teman dari keluarga saya dan Alhamdulillah tidak terjadi pada keluarga saya. Semoga selalu terjaga demikian adanya pada keluarga dan pribadi saya, InsyaAllah, Amin. Adanya istilah pernikahan “di bawah tangan” menjadikan keadaan sosial masyarakat semakin tidak tertata. Bila mampu berlaku adil dan mendapat ijin dari istri pertama, boleh-boleh saja para suami memperistri orang kedua, ketiga, dan seterusnya. Dengan demikian status pernikahannya jelas dan tidak harus merasa tidak nyaman juga sembunyi-sembunyi. Banyak hal yang melatar belakangi banyaknya praktek nikah “di bawah tangan”. Seringkali, alasan utama dari kondisi tersebut adalah banyaknya materi yang melimpah hingga menguatkan keinginan untuk memperistri orang kedua dan seterunya. Celakanya, restu dari istri pertama tidak didapat hingga segala cara ditempuh untuk mendapatkan keinginan tersebut. Meski banyak hal lain yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi, keberlimpahan “materi” menjadi sebab utama diikuti penyebab-penyebab lainnya. Besarnya keinginan juga menjadi pemicu serta banyak lagi hal lainnya.
Belajar dari kondisi tersebut. Hingga harus “kucing-kucingan” dengan keluarga serta keanehan sikap lainnya yang muncul, cukup bijak apabila kita berfikir cukuplah satu bila dua atau tiga buat tak nyaman. Percakapan itu berlangsung hingga beberapa menit hingga akhirnya saya berpisah dengan beliau di boarding pass dan mengambil tempat duduk msing-masing sembari menunggu pesawat yang delay beberapa jam.
Cukuplah Satu Bila Dua atau Tiga Buat Tak Nyaman Cukuplah Satu Bila Dua atau Tiga Buat Tak Nyaman Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 11:35 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.