Lho, kok lewat Kalimantan Selatan kan tujuannya Kalimantan Tengah? Apakah ada pertanyaan yang demikian. Tidak lain jawabannya karena jarak tempuh Banjarmasin – Kuala Kapuas (berikutnya akan saya sebut Kapuas) lebih dekat dibanding dari Palangkaraya yang notabene ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Bila Banjarmasin – Kapuas hanya membutuhkan waktu kurang lebih 60 menit sedangkan melalui Palangkaraya waktu yang dibutuhkan lebih dari 120 menit. Singkat cerita, kepergian saya ke Kapuas adalah untuk berkunjung ke keluarga. Disisi lain, selalu ada banyak hal yang bisa jadi bahan pembelajaran bila kita pergi ke satu tempat yang baru.
Penerbangan sore itu terjadwal 15.15 WIB dan mengaharuskan
pengecekan tiket beberapa jam sebelumnya. Usai melakukan pengecekan tiket, saya
menghabiskan beberapa menit di ruang tunggu gate 1 bandara Juanda. Disela
menunggu itulah, kebetulan ada seorang bapak paruh baya berusia lebih dari 55
tahun yang merupakan seorang pensiunan korps baju coklat yang sedang mengambil
liburan dari tempat kerjanya. Tanpa diminta, yang bersangkutan bercerita
panjang lebar mengenai masalah kehidupannya. Selepas pensiun beliau bekerja di
tambang batubara hingga harus meninggalkan keluarga di Semarang, serta pulang
pergi Banjarmasin – Semarang dengan kapal feri maupun pesawat. Sampai pada
akhirnya, beliau bercerita tentang istri mudanya yang masih berusia 30-an
diusianya yang lebih dari setengah abad dan memiliki cucu di kota asal
keluarganya. Yang membuat saya heran dan terus tetap mendengar, beliau berkata
selalu berusaha menjaga kerahasiaan tersebut dari istri pertamanya. Para
pembaca pasti bisa menarik kesimpulan status pernikahan keduanya.
Berkaca pada cerita beliau, Judul tulisan yang saya
ambil jelas tergambar dan bisa dipahami oleh pembaca sekalian. Seringkali saya
mendapati fenomena ini, di lingkungan sekitar saya, teman saya, teman dari
keluarga saya dan Alhamdulillah tidak terjadi pada keluarga saya. Semoga selalu
terjaga demikian adanya pada keluarga dan pribadi saya, InsyaAllah, Amin.
Adanya istilah pernikahan “di bawah tangan” menjadikan keadaan sosial
masyarakat semakin tidak tertata. Bila mampu berlaku adil dan mendapat ijin
dari istri pertama, boleh-boleh saja para suami memperistri orang kedua,
ketiga, dan seterusnya. Dengan demikian status pernikahannya jelas dan tidak
harus merasa tidak nyaman juga sembunyi-sembunyi. Banyak hal yang melatar
belakangi banyaknya praktek nikah “di bawah tangan”. Seringkali, alasan utama
dari kondisi tersebut adalah banyaknya materi yang melimpah hingga menguatkan
keinginan untuk memperistri orang kedua dan seterunya. Celakanya, restu dari
istri pertama tidak didapat hingga segala cara ditempuh untuk mendapatkan
keinginan tersebut. Meski banyak hal lain yang menyebabkan kondisi tersebut
terjadi, keberlimpahan “materi” menjadi sebab utama diikuti penyebab-penyebab
lainnya. Besarnya keinginan juga menjadi pemicu serta banyak lagi hal lainnya.
Belajar dari kondisi tersebut. Hingga harus “kucing-kucingan”
dengan keluarga serta keanehan sikap lainnya yang muncul, cukup bijak apabila
kita berfikir cukuplah satu bila dua atau tiga buat tak nyaman. Percakapan itu
berlangsung hingga beberapa menit hingga akhirnya saya berpisah dengan beliau
di boarding pass dan mengambil tempat duduk msing-masing sembari menunggu
pesawat yang delay beberapa jam.
Cukuplah Satu Bila Dua atau Tiga Buat Tak Nyaman
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
11:35 pm
Rating:
No comments: