Malam minggu itu menjadi semakin hangat dengan beebrapa perbincangan dan
ramainya pengunjung memadati ruangan kedai yang lesehan dengan beberapa meja
tertata rapi + fasilitas wifi gratis
yang menjadi incaran pelanggan. Kedai yang terletak di belakang kampus UIN
Malang dengan nama “Smooth” yang berlogo seeokor semut. Apakah ada diantara kawan
LangKA yang bingung dengan nama kedai tersebut. Pada awalnya saya juga bingung,
ternyata setelah saya coba terka ternyata benar. Ada maksud dibalik nama dan
logo tersebut. Smooth diartikan sopan/halus yang secara pengucapan memiliki
penyebutan hewan semut yang suka bergotong royong karena kedai ini didirikan
dengan semangat kebersamaan yang bersama-sama menanamkan modal. Maka jadilah
kedai tersebut bernama “smooth” yang berarti pelayanannya sopan/halus dan
berlogo hewan semut.
Kembali ke laptop! Akhir pekan itu akhirnya saya
habiskan dengan salah satu teman yang juga pengelola kedai dan beberapa teman.
Satu diantara banyak orang yang saat itu asyik berbincang dengan saya adalah
seorang dosen yang mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya.
Pernah mengambil pendidikan di Mesir. Sebuat saja beliau El. Itulah yang
membuat saya tertarik. Seperti kita tahu. Beberapa minggu terakhir, berita soal
Mesir menjadi konsumsi publik di tanah air karena adanya pergolakan politik.
Pergolakan politik yang menjatuhkan ratusan korban jiwa. El sendiri pulang ke
tanah air difasilitasi oleh pemerintah kala terjadi penggulingan kekuasaan
Housni Mubarok sekitar tahun 2011. Kami berbicara banyak soal bagaimana Mesir
dan hal-hal lain tentang organisasi-organisasi yang banyak orang sudah tahu
sebagai pendukung Moursi. Organisasi yang pola geraknya dijadikan semacam arah
juang partai politik di tanah air saat ini. Hingga akhirnya kami
menyinggung-nyinggung soal islam dan keIndonesiaan bahkan keDuniaan. Menarik
bagi saya saat itu ketika El berbicara mengenai Negara ini dalam keadaan
bahaya. Dengan sudut pandang dari sisi islam, El mencoba menggambarkan keadaan
kurs Rupiah yang saat ini sedang lemah terhadap Dollar AS serta berbagai
ketimpangan sosial yang harus dipandang secara agamis oleh para birokrat dan
pemerintahan. Bukan hanya sekedar politik saja dan mengabaikkan ruh dari fitrah
keyakinan para pelakunya. Hal ini saya amini karena sebagaian besar hukum kita
juga menggunakan rujukan hukum islam. Namun hal itu tidak serta merta mampu
dieksplor secara seksi oleh para pemegang kebijakan.
El berpandangan, melemahnya Rupiah bukan semata
permasalahan sepele yang hanya diselesaikan dengan kebijakan ekonomi dan
hal-hal bersifat keduniaan. Dirinya berpandangan bahwa ini adalah pola dari
hal-hal yang mengusik islam secara terselebung. Dikatakan bahwa ancaman yang
paling berbahaya bagi manusia adalah perut ke atas dan perut k bawah. El
mengatakan, permasalahan perut ke bawah sudah merambah hingga pergaulan anak
smp di kota-kota besar bahkan kota-kota penunjang kota besar. Dengan merujuk
hasil survey sebuah surat kabar nasional yang bermarkas di Surabaya, El
mengatakan bahwa kewaspadaan terhadap permasalahan perut ke bawah adalah mutlak
harus di benahi. Terkait dengan permasalahan perut ke atas adalah rasa lapar
dan pola pikir. Lantas apa hubungannya denga kurs Rupiah? Kita mengamini bahwa
semua komoditi pangan yang ada di Indonesia adalah hasil Impor dari
Negara-negara lain. Menjadikan harga pangan melambung tinggi dan mempersulit
daya beli masyarakat. Inilah yang menjadikan saya mengamini El menyorot tentang
hal tersebut. Upaya-upaya untuk menyelesaikan permasalahan bukan semata pada
permasalahan yang sedang dihadapai tapi juga yang akan dihadapi. Perbincangan
kedai kopi semacam ini yang menjadikan dinamika berfikir terus terjaga.
Perbincangan malam itu terus berlanjut hingga
pembahasan mengenai bagaimana Islam seharusnya menjadi sendi-sendi dalam
mejalani kehidupan. El mencoba mengambil contoh dalam sebuah film besutan
Hanung Bramantyo “Sang Pencerah”. Film yang mengisahkan seorang Muhammad Darwis
atau lebih dikenal dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Perbincangan kami tidak
membahas bagaimana film tersebut dibuat atau bagaimana sebuah ajaran muncul
dalam sebuah perspektif berbeda seorang pemuda kala itu. Kami masing-masing
mencoba mengutip penggalan cerita film yang diangkat dari buku hasil novelisasi
kehidupan seorang Kyia Haji Ahmad Dahlan. Kami berdoa menyorot tentang
penggunaan biola yang bagi kami memiliki versi masing-masing. Sepenggal cerita
tentang pertentangan produk buatan “kafir” (biola) yang gemar digunakan oleh
KH. Ahmad Dadlan serta ketika KH. Ahmad Dhlan menjelaskan apa itu islam. Dimainkannya
biola tanpa berkata-kata. Islam adalah Indah, Menentramkan hati hingga membuat
seorang santri tertidur. Beberapa lainnya menikmati. Saaat biola berpindah
tangan dan dimainkan oleh orang yang tidak paham secara benar memainkan biola,
membuat keadaan jadi kacau. Begitu El berkata terilhami potongan cerita dari
sebuah film yang mendasari dirinya berpresepsi tentang kesalahan cara pandang
orang dalam memeluk dan mengamalkan keIslamannya.
Obrolan Akhir Pekan
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
8:28 pm
Rating:
No comments: