Obrolan Akhir Pekan

Akhir pekan kemarin, saya menghabiskan waktu di kota Malang. Di sebuah kedai yang dikelola oleh teman yang sudah banyak membantu saya. Melanjutkan urusan pekerjaan sembari menyambung silaturahmi/silaturahim agar usia, amalan dan segalanya menjadi baik. InsyaAllah. Seperti biasa, akhir pekan beebrapa teman yang sudah disibukkan kegiatan di awal pekan menghabiskan waktu malam di kedai tempat saya berada. Malam itu sesorang akan datang berkunjung ke kedai. Teman dari pengelola kedai yang juga saya kenal saat berkunjung ke kota pahlawan “Surabaya” beberapa bulan lalu.
Malam minggu itu menjadi semakin hangat dengan beebrapa perbincangan dan ramainya pengunjung memadati ruangan kedai yang lesehan dengan beberapa meja tertata rapi +  fasilitas wifi gratis yang menjadi incaran pelanggan. Kedai yang terletak di belakang kampus UIN Malang dengan nama “Smooth” yang berlogo seeokor semut. Apakah ada diantara kawan LangKA yang bingung dengan nama kedai tersebut. Pada awalnya saya juga bingung, ternyata setelah saya coba terka ternyata benar. Ada maksud dibalik nama dan logo tersebut. Smooth diartikan sopan/halus yang secara pengucapan memiliki penyebutan hewan semut yang suka bergotong royong karena kedai ini didirikan dengan semangat kebersamaan yang bersama-sama menanamkan modal. Maka jadilah kedai tersebut bernama “smooth” yang berarti pelayanannya sopan/halus dan berlogo hewan semut.
Kembali ke laptop! Akhir pekan itu akhirnya saya habiskan dengan salah satu teman yang juga pengelola kedai dan beberapa teman. Satu diantara banyak orang yang saat itu asyik berbincang dengan saya adalah seorang dosen yang mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya. Pernah mengambil pendidikan di Mesir. Sebuat saja beliau El. Itulah yang membuat saya tertarik. Seperti kita tahu. Beberapa minggu terakhir, berita soal Mesir menjadi konsumsi publik di tanah air karena adanya pergolakan politik. Pergolakan politik yang menjatuhkan ratusan korban jiwa. El sendiri pulang ke tanah air difasilitasi oleh pemerintah kala terjadi penggulingan kekuasaan Housni Mubarok sekitar tahun 2011. Kami berbicara banyak soal bagaimana Mesir dan hal-hal lain tentang organisasi-organisasi yang banyak orang sudah tahu sebagai pendukung Moursi. Organisasi yang pola geraknya dijadikan semacam arah juang partai politik di tanah air saat ini. Hingga akhirnya kami menyinggung-nyinggung soal islam dan keIndonesiaan bahkan keDuniaan. Menarik bagi saya saat itu ketika El berbicara mengenai Negara ini dalam keadaan bahaya. Dengan sudut pandang dari sisi islam, El mencoba menggambarkan keadaan kurs Rupiah yang saat ini sedang lemah terhadap Dollar AS serta berbagai ketimpangan sosial yang harus dipandang secara agamis oleh para birokrat dan pemerintahan. Bukan hanya sekedar politik saja dan mengabaikkan ruh dari fitrah keyakinan para pelakunya. Hal ini saya amini karena sebagaian besar hukum kita juga menggunakan rujukan hukum islam. Namun hal itu tidak serta merta mampu dieksplor secara seksi oleh para pemegang kebijakan.
El berpandangan, melemahnya Rupiah bukan semata permasalahan sepele yang hanya diselesaikan dengan kebijakan ekonomi dan hal-hal bersifat keduniaan. Dirinya berpandangan bahwa ini adalah pola dari hal-hal yang mengusik islam secara terselebung. Dikatakan bahwa ancaman yang paling berbahaya bagi manusia adalah perut ke atas dan perut k bawah. El mengatakan, permasalahan perut ke bawah sudah merambah hingga pergaulan anak smp di kota-kota besar bahkan kota-kota penunjang kota besar. Dengan merujuk hasil survey sebuah surat kabar nasional yang bermarkas di Surabaya, El mengatakan bahwa kewaspadaan terhadap permasalahan perut ke bawah adalah mutlak harus di benahi. Terkait dengan permasalahan perut ke atas adalah rasa lapar dan pola pikir. Lantas apa hubungannya denga kurs Rupiah? Kita mengamini bahwa semua komoditi pangan yang ada di Indonesia adalah hasil Impor dari Negara-negara lain. Menjadikan harga pangan melambung tinggi dan mempersulit daya beli masyarakat. Inilah yang menjadikan saya mengamini El menyorot tentang hal tersebut. Upaya-upaya untuk menyelesaikan permasalahan bukan semata pada permasalahan yang sedang dihadapai tapi juga yang akan dihadapi. Perbincangan kedai kopi semacam ini yang menjadikan dinamika berfikir terus terjaga.
Perbincangan malam itu terus berlanjut hingga pembahasan mengenai bagaimana Islam seharusnya menjadi sendi-sendi dalam mejalani kehidupan. El mencoba mengambil contoh dalam sebuah film besutan Hanung Bramantyo “Sang Pencerah”. Film yang mengisahkan seorang Muhammad Darwis atau lebih dikenal dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Perbincangan kami tidak membahas bagaimana film tersebut dibuat atau bagaimana sebuah ajaran muncul dalam sebuah perspektif berbeda seorang pemuda kala itu. Kami masing-masing mencoba mengutip penggalan cerita film yang diangkat dari buku hasil novelisasi kehidupan seorang Kyia Haji Ahmad Dahlan. Kami berdoa menyorot tentang penggunaan biola yang bagi kami memiliki versi masing-masing. Sepenggal cerita tentang pertentangan produk buatan “kafir” (biola) yang gemar digunakan oleh KH. Ahmad Dadlan serta ketika KH. Ahmad Dhlan menjelaskan apa itu islam. Dimainkannya biola tanpa berkata-kata. Islam adalah Indah, Menentramkan hati hingga membuat seorang santri tertidur. Beberapa lainnya menikmati. Saaat biola berpindah tangan dan dimainkan oleh orang yang tidak paham secara benar memainkan biola, membuat keadaan jadi kacau. Begitu El berkata terilhami potongan cerita dari sebuah film yang mendasari dirinya berpresepsi tentang kesalahan cara pandang orang dalam memeluk dan mengamalkan keIslamannya.
Obrolan Akhir Pekan Obrolan Akhir Pekan Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 8:28 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.