Beberapa bulan terakhir selain ibadah di bulan
Ramadhan, Indonesia sedang disibukkan dengan persiapan hajatan besar. Banyak diantara
para pemilik hajatan besar ini memanfaatkan momentum lebaran. Istilah ini sering kali muncul dalam jangka berapa
tahun sekali. Kondisi ini akan terjadi hingga akhir tahun dan awal tahun
berikutnya. Sebuah hajatan besar yang bisa jadi menguras “sumber energi” seluruh
kalangan di Republik ini. Sumber energi yang dimaksud mulai dari tenaga,
pikiran, mental, psikologis, finansial atau bisa jadi ada sumber energi lain
yang belum saya sebutkan? Hajatan besar itu adalah berbagai bentuk pemilihan
umum.
Hampir setiap hari, informasi mengenai hal ini tercecer di seluruh media massa (cetak,
elektronik, digital, dll). Beragam reaksi juga bermunculan, terutama di dunia
digital (media sosial). Tidak jarang kondisi ini membuat saya bingung. Pun tulisan
ini juga termasuk dari reaksi saya atas apa yang sudah, sedang, dan akan
terjadi. Disini, saya mencoba untuk menyamakan pemahaman tentang definisi
profesi, pilihan, dan cara dengan para pembaca. Menurut kawan-kawan, apa itu
profesi? Apa itu pilihan? Dan apa itu cara? Dengan segala keterbatasan
pemahaman, saya tidak menuliskan definisi itu di artikel ini (Kawan-kawan
boleh posting di kolom komentar tentang definisi ketiganya).
Akhir-akhir ini, wiraswasta (bahasa keren : entrepreneur)
menjadi primadona bagi sebagian kalangan. Termasuk juga saya bagian dari
kalangan tersebut. Berjalan mundur beberapa belas atau puluh tahun silam, politisi
juga menjadi primadona bagi sebagian kalangan bahkan hingga saat ini. Pun juga
saya termasuk dalam kalangan tersebut. Lantas mengenai hidup lebih “agamis”
saya berpendapat bahwa itu adalah mutlak harus jadi primadona semua kalangan
sepanjang bumi belum kiamat.
Pertanyaan-pertanyaan saya mulai muncul pada saat
sebagian orang menghujat wiraswasta dengan cemooh/sindiran/sentilan/colekan
yang bermacam-macam begitu pula dengan politisi (tentang spanduk caleg, spanduk
pilgub, dan berbagai macam alat pemenangan). Satu hal lagi yang menjadi seperti
“aneh”, menjadi pegawai negeri sipil, tentara, polisi, bahkan ustad/ustadah
belum pula penulis, kolumnis, pakar dan lain sebagaianya juga di sentil sana
sindir sini. Dari sebagian banyak penyakit alergi yang dialami manusia, rasanya
alergi terhadap profesi adalah alergi yang paling kronis dan sulit terobati. Sedangkan
orang yang terlibat didalamnya telah menentukan pilihan sesuai dengan
pertimbangannya masing-masing yang akan dipertanggungjawabkan oleh dirinya
sendiri. Dan itu adalah cara bagi setiap orang untuk menggapai jalan hidupnya
menuju sebuah akhir kehidupan. Profesi untuk ibadah atau sekedar kesenangan. Apapun
profesinya, minumnya tetap air putih :)
ALERGI KRONIS
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:46 am
Rating:
No comments: