Tidak terasa sudah memasuki 4 Syawal 1434 H.
Beberapa orang masih sibuk dengan open
house. Beberapa lainnya mempersiapkan rutinitas untuk hari besok. Libur lebaran
sudah akan berakhir. Kunjungan ke beberapa kolega, saudara, teman jadi
rutinitas tahunan yang menyenangkan lebaran kemarin. Halal bihalal desa jadi
ramai. Setiap orang keluar rumah menemui tetangga di jalan-jalan desa usai
melaksanakan sholat Id. Ada sedikit yang mengganggu. Petasan berukuran sedang
yang menimbulkan polusi suara, polusi udara, sampah dan gangguan keamanan
tiba-tiba muncul lebaran tahun ini. Serakan kertas bekas ledakan dimana-mana
dan ditinggalkan begitu saja.
Malam itu, hari jumat 8 Agustus atau 2 Syawal. Keluarga
berkunjung silaturahmi ke rumah kakek (adik dari kakek (orang tua alm.bapak) saya
yang sudah meninggal terlebih dulu beberapa belas tahun silam). Secara sengaja,
semua keluarga datang dan berkumpul di rumah kakek. Pembicaraan berjalan akrab
seperti biasa. Usia senja tidak menyurutkan beliau untuk menyambut keluarga
besar. Ruang tamu berukuran sedang mendadak sesak dengan banyaknya angota
keluarga yang datang. Seperti biasa, pembicaraan tentang pekerjaan, kuliah,
kehamilan, pernikahan, dan semua hal tentang aktifitas keluarga jadi hal umum
disetiap acara halal bihalal. Dan sepertinya hal itu jamak terjadi di semua
keluarga bukan hanya di Indonesia.
Beberapa jam berlalu. Halal bihalal semakin ramai
dengan banyaknya keluarga yang datang. Tiba-tiba kakek yang sampai saaat ini
masih aktif sebagai pengelola senam jantung sehat di kota tempat saya tinggal
serta sedikit banyak masih memperhatikan perkembangan desa yang kebetulan masih
tinggal satu wilayah menyodorkan tawaran yang membuat saya cukup kaget.
“Kamu tidak tertarik maju jadi kepala desa nak?”
Iya. Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar dari
mulut kakek. Jadwal pemilihan kepala desa memang sedang berkembang di
lingkungan desa. Terheran saya mendapati tawaran itu dari kakek saya yang
memang terkenal vocal di lingkungan desa. Beliau yang seorang pensiuanan
pegawai negeri sipil barnagkali memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang
harusnya terjadi di pemerintahan desa. Saya sendiri tidak menjawab tawaran itu.
Hanya mencoba mengamati pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut beliau
lebih seperti curhatan dan uneg-uneg.
Terlepas apa maksud dari tawaran beliau, seringkali
saya lupa jika momentum tak pernah terlahir dua kali. Dia ada pada sebuah jalan
Tuhan yang membimbing secara samar agar si manusia menentukan pilihan yang
telah diberikan. Atau mungkin membuat jalan sendiri untuk mencapai tujuan
hidupnya? Semoga ada pembelajaran dalam setiap kejadian.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H
TAQOBALLALLOHUMINAWAMINKUM SYIAMANAWASIAMAKUM.
TAQOBALLALLOHUYAKARIM.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
LEBARAN YANG . . . . . .
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:54 am
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:54 am
Rating:

No comments: