MANGKOK

Senin sore berada di salah satu wilayah di pinggiran kota Surabaya bertemu dengan teman dekat saya untuk membicarakan beberapa hal. Sudah cukup lama tidak bertatap muka walaupun masih sering berkomunikasi lewat jejaring sosial maupun telefon seluler. Jaman sekarang jarak tak lagi jadi masalah tetapi bertatap muka tetap menjadi 1 hal yang luar biasa mengasyikkan.

Pertemuan 2 atau lebih manusia yang energinya tertahan kemudian bertemu dan beradu dalam sudut pandang positif akan membawa banyak sekali manfaat. Bertukar pandangan, pemikiran, perluas wawasan, menyambung rejeki, menebar tawa, merubah gundah jadi membalik kondisi luar biasa. Itulah kelebihan silaturahmi. Menjelang malam, kebiasaan berdiskusi membicarakan banyak hal menjadi kian renyah dan gurih ditemani secangkir kopi hitam yang pengolahan biji kopinya dari kampung halaman beliau. Pada satu pembicaraan sempat menyinggung-nyinggung tentang besaran rejeki dan kemampuan menerima rejeki yang membuat saya semakin sadar dan banyak belajar tentang kehidupan yang saya jalani, semoga juga demikian dengan para pembaca yang membaca artikel saya ini. Ketika kita sudah memilih sebuah jalur dan memantapkan pilihan tersebut, barangkali banyak dari kita yang sudah merasa cukup dengan apa yang kita punyai saat ini.

Meminjam bahasa teman saya, kegagapan situasi yang menjadikan kita harus rumongso (merasa). Merasa sebab-sebab dari segala hal yang kita dapat saat ini. Jika bayangan-bayangan besar kita tidak dibarengi dengan peningkatan kemampuan kita menangkap segala hal, barangkali kita akan terus gagap jika tidak bersegera rumongso. Rumngso tentang diri sendiri, sudahkan cukup mampu menerima pemeberian Tuhan. Diibaratkan oleh teman saya dengan mangkok. Sudahkah kita menyiapkan mangkok yang besar untuk menerima anugerah Tuhan yang begitu besar. Untuk menyiapkan mangkok yang besar dibutuhkan “biaya” (proses) yang besar pula. Atau setidaknya, jika tidak memiliki “biaya” (proses) untuk menyiapkan mangkok yang super besar, kita bisa menyiapkan mangkok yang “banyak” (proses yang panjang) untuk menerima anugerah Tuhan yang tidak terbatas. Sehingga mangkok yang banyak itu bisa menampung anugerah-NYA sedikit-sedikit dalam banyak mangkok. Dan dari proses yang panjang tersebut kita menjadi pribadi yang pantas untuk menyiapkan dan memiliki mangkok yang besar untuk menampung segala anugerah Tuhan yang tiada batas dan berlimpah.
Jika saat ini kita masih dalam proses belajar dan menyelami kehidupan, semoga kita diantara orang-orang yang sudah menyiapkan mangkok-mangkok kecil yang  banyak untuk menampung kucuran anugerah tiada batas dari-NYA dan merubahnya menjadi mangkok yang besar… pertanyaannya, sudahkah kita pantas memiliki mangkok yang besar???     
MANGKOK MANGKOK Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 7:12 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.