KENISCAYAAN PERUBAHAN

Sudah memasuki jumat di pekan kedua bulan april, segalanya masih berjalan normal dengan pelbagai aktifitas yang menyenangkan. Segala sesuatunya harus tetap disyukuri apapun jalan cerita kehidupan kita ya sobat. Seperti biasa, hari jumat adalah waktu wajib bagi seluruh umat muslim dunia untuk menunaikan ibadah sholat jumat.
Di kota saya sendiri sudah umum pujian-pujian bersahutan dari masjid di kampung-kampung sebelah dengan masjid di kampung saya. Karena pernah selama 5 tahun saya tidak mengalami hal itu (mendengar puji-pujian dari pengeras masjid) diseababkan letak masjid 1 dan lainnya sangat jauh berkilo-kilometer. Untuk menuju masjidnyapun melalui jalan rusak karena memang islam menjadi agama mayoritas kedua di provinsi tersebut. Hal itu saya alami sewaktu menjalani masa pendidikan/perkuliahan.
Sudah hampir 1,5 tahun saya meninggalkan daerah tersebut dan kembali kekampung halaman di kota saya sekarang ini. Dan kembali menyusun pecahan-pecahan memori yang sempat tertinggal (cieehhh.. jadi pujangga ceritanya.. hehe). Tapi 1 hal dari sekian tahun saya tinggalkan, masih saja tetap demikian adanya dan melulu tentang itu-itu saja padahal penggunanya bukan lagi orang sekitar. Memangnya apa yang tidak berubah?? Jawabannya masjid sobat. Tentang pengurus dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan masjid yang jamaahnya sudah meliputi berbagai lapisan masyarakat dan dari berbagai penjuru kota yang bekerja di dekat kampung yang bersebelahan dengan jalan raya ini.
Tepat hari ini, saat sholat jumat yang sebelum-sebelumnya selalu khutbah diisi oleh orang yang sama (ustad dan sesepuh desa berusia 60-70 tahun walaupun sesekali khutbah diisi oleh  ustad berusia sekitar 45-50an tahun) sebelum saya meninggalakan kota ini akhirnya ada suara muda yang tiba-tiba muncul dari balik microfon di mimbar jumat masjid kampung saya. Usianya cukup muda sekitar 27-30an tahun. Takmir masjid beberapa bulan lalu juga diganti dan ada banyak aktifitas yang melibatkan anak muda dimasjid.  Setidaknya memberikan kesegaran dan menghilangkan rasa kantuk para jamaah yang biasa melanda ketika khutbah disampaikan (termasuk saya yang teklak-tekluk menahan kantuk agar tidak terpejam.. hehe).
Usia yang tidak lagi muda dari sesepuh desa, dinamika sosial yang melaju kencang tanpa penghalang, dan kesadaran tinggi tentang memberi kesempatan kepada yang muda pada akhirnya memberikan sebuah keyakinan bahwa perubahan itu adalah mutlak adanya. Keniscayaan perubahan tak dapat dibendung oleh apapun, bukan jaman yang mengikuti manusia tetapi manusia yang mengikuti jaman dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah  bermasyarakat. Semoga kita termasuk orang-orang yang siap dengan keniscayaaan perubahan agar tidak habis tergerus jaman.
KENISCAYAAN PERUBAHAN KENISCAYAAN PERUBAHAN Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 1:28 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.