Tidak seperti 5 tahun belakangan
kuhabiskan waktu Ramadhan ditanah perantauan untuk menyelesaikan study S1 di
pulau seribu pura tanah dewata Bali di Universitas Udayana tepatnya. Kurang
lebih baru 8 bulan kutinggalkan jejak-jejak cerita itu dan sekarang memulai
kehidupan baru di kampung halaman yang sudah 5 tahun kutinggalkan. Ramadhan
bersama keluarga telah terlewati lebih dari setengah perjalanan dalam bulan
Ramadhan tahun ini, menjalani puasa dengan menu berbuka yang hampir pasti
adalah masakan emakku tercinta yang tiada banding tiada tanding, mantap, top
markotop, maknyus, dan laziiissss.. :-) pasti sangat berbeda karena dulu jadi anak kos,
makan menu warung dan terkadang berburu ta'jil di masjid-masjid di sekitar kota
denpasar. Beberapa kali di denpasar menjual es buah di depan pagar kampus
Udayana (Jl. PB Sudirman) tiap datang Ramadhan. Semuanya menjadi kenangan
manissss..
Bersama teman-teman muslim dalam sebuah komunitas dan organisasi yang menaungi kawan-kawan mahasiswa muslim di Udayana mengadakan acara BUBAR (Buka Puasa Bareng) dengan berbagai tema.
Bersama teman-teman muslim dalam sebuah komunitas dan organisasi yang menaungi kawan-kawan mahasiswa muslim di Udayana mengadakan acara BUBAR (Buka Puasa Bareng) dengan berbagai tema.
Tapi inilah kehidupan, waktu berputar dan selalu ada para pengganti dan
pembaharu yang juga akan melewati segalanya. Menjadi indah karena silaturahmi
terjalin, menjadi indah karena merasa semua adalah keluarga yang satu sama lain
melengkapi. Indahnya kebersamaan diperantauan. Melengkapi satu sama lain
disebuah lingkungan yang didominasi kalangan non muslim tapi berkah Ramadhan
tak pernah luput dari setiap makhluk yang merindunya. Toleransi yang diberikan oleh
teman-teman non muslim menjadi indah terajut dalam sebuah keharmonisan.
Satu hal yang mungkin untuk jangka waktu lama tak lagi bisa kurasakan,
atmosfir mudik berkendara menyisir selatan pulau Bali ditemani lambaian pohon
kelapa ditepian pantai, menyeberangi selat Bali berdesakan bersama ribuan
pemudik yang menjadi bikers dadakan
(setiap kali mudik selalu pakai motor dengan perjalanan darat kurang lebih 12
jam) penuh sesak memadati pintu antiran tiket kapal feri dan pemeriksaan
kelengkapan berkendara oleh pak polisi. Mudik menjadi hal wajid tiap kali
Ramadhan tiba dipenghujung waktu mendekati Hari Raya Idul Fitri. Hunian di kos
menjadi sepi, kesibukan kampus dilupakan sejenak dan yang teringat dibenak
adalah keluarga. Sekarang ini karena masa study telah usai, dan menetap di
kampung halaman serta kakek nenek dari ibu maupun alm. bapak tak lagi ada acara
lebaran kuhabiskan di tempat kelahiranku yaitu Mojokerto.
Suatu saat nanti jika Allah mengizinkan mendapati pendamping hidup yang
datang dari luar Mojokerto, sepertinya Mudik akan menjadi hal menyenangkan
bersama dengannya yang halal bagiku.. :-) (menyelipkan doa di bulan yang penuh
berkah) amiiinnn..
Ramadhan yang berbeda di 2012
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
10:50 pm
Rating:
No comments: