Menghitung mundur sisa waktu peradaban bumi berdasar jumlah ketersediaan air : Dilema masyarakat sedot air tanah atau berlangganan PDAM untuk air bersih

Hal krusial yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia adalah air. Beberapa penelitian mengatakan bahwa manusia dapat bertahan hidup tanpa makan selama beberapa hari tapi tidak bisa bertahan hidup tanpa air. Dikatakan bahwa kurang lebih tubuh manusia terdiri dari 80 % air bahkan lebih. Menjadi rahasia umum bahwa manusia setidak-tidaknya dalam 1 hari harus mengkonsumsi atau meminum 8 gelas air atau sekurang-kurangnya 2 liter untuk mengganti cairan dalam tubuh yang keluar melalui kelenjar keringat, air seni, pernafasan, dan sekresi. Karenanya air merupakan kebutuhan vital bagi manusia. Tak hamya di Indonesia, air bersih juga menjadi masalah pelik di dunia baik negara berkembang maupun negara maju.
Jika ditanya mengenai lebih rumit mana ketersediaan air bersih pada negara berkembang atau negara maju? Sepertinya setiap orang sepakat menjawab bahwa ketersediaan air bersih lebih sulit di negara berkembang. Kenapa demikian? hal ini dikarenakan regulasi yang belum jelas tentang penggunaan air maupun pemanfaaatan air tanah yang tidak dibatasi sehingga penggunaannya berlebihan dan mengakibatkan ketersediaan air menjadi berkurang bahkan habis serta mengakibatkan dampak lingkungan lainnya (artikel selengkapnnya baca di sini). 
Dalam berbagai pewartaan di mass media baik cetak maupun elektronik, ketersediaan air bersih diberbagai wilayah menjadi masalah utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa wilayah di Indonesia terutama kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya dengan tingkat kepadatan penduduk serta semrawutnya sanitasi tidak memberikan jaminan kepada setiap warganya mampu menikmati air bersih. Air tanah yang tak lagi layak konsumsi tidak memberikan banyak pilihan selain membeli kepada pedagang air keliling ataupun berlangganan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan itupun selalu saja masih terdapat keluhan yang tak berujung mulai dari meteran yang tidak sesuai penggunaan hingga tagihan melambung tinggi, jarum meteran yang berhenti hingga pelanggan tidak bisa mengakses jumlah air terpakai, system bergilir penyaluran air yang tidak nyaman, debit air yang keluar tidak sesuai dengan harapan, dan lain sebagainya.
Seperti diwartakan oleh salah satu media cetak nasional baru-baru ini, eksistensi PDAM Mojokerto yang semakin memudar memberikan gambaran jelas tentang sulitnya perusahaan ini memikat hati para pelanggan/masyarakat dalam memanfaatkan jasanya (baca berita selengkapnya di sini). Sejalan dengan berita ini, dengan adanya berita yang dilansir oleh tim VOA dengan judul “USAID Luncurkan Program Air Bersih di JawaTimurdan Mojokerto termasuk dalam wilayah yang akan menerima bantuan program ini, saya berharap permasalahan ketersediaan air bersih bagi masyarakat Jawa Timur khususnya dan penduduk Indonesia ada umumnya dapat teratasi dengan baik dan kembali menghidupkan eksistensi PDAM Jawa Timur khususnya dan PDAM seluruh Indonesia pada umumnya sebagai perusahaan penyedia jasa penyalur air bersih untuk rumah tangga dan memberikan pelayanan terbaik terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Menghitung mundur sisa waktu peradaban bumi berdasar jumlah ketersediaan air : Dilema masyarakat sedot air tanah atau berlangganan PDAM untuk air bersih Menghitung mundur sisa waktu peradaban bumi berdasar jumlah ketersediaan air : Dilema masyarakat sedot air tanah atau berlangganan PDAM untuk air bersih Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 10:56 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.