Terdengar penting dan sudah sangat mendesak!
Barangkali itu yang menjadi pemikiran para ahli bahkan orang awam sekalipun
seperti saya. Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) yang tidak pernah ada batasnya
dengan lonjakan harga kian tinggi serta persediaan yang sewaktu-waktu akan
habis membuat setiap orang berfikir, bahan alternatif apa yang dapat digunakan
untuk pengganti bahan bakar minyak yang ngetrend
dengan sebutan energi terbarukan. Terfokus pada penggunaan BBM terhadap
kendaraan bermotor, kebutuhan kian hari tidak pernah terlihat berkurang bahkan
makin bertambah dan selalu saja ada berita antrian pembelian karena pembatasan
quota di SPBU di daerah-daerah.
Dengan membawa semangat energi terbarukan serta
peduli terhadap kearifan lingkungan, setiap orang diseluruh penjuru dunia
berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan mobil dan motor ramah lingkungan.
Salah satu karya terbaik adalah mobil listrik yang memiliki kelebihan dibanding
mobil dan motor konvensional berbahan bakar fosil dari perut bumi. Begitu juga
dengan Indonesia, tak mau kalah melakukan penelitian-penelitian guna menopang
perkembangan gaya hidup masyarakat. Salah satu lembaga negara yang telah
melahirkan mobil listrik nasional dan baru-baru ini telah mengeluarkan prototype adalah LIPI yang didorong
penuh oleh Kemenag BUMN untuk segera melahirkan dan memperbanyak mobil-mobil
listrik tersebut agar dapat diniagakan.
Peruntukan MOLINA
Lahirnya mobil listrik oleh LIPI diharapkan mampu
menjadi salah satu solusi ketidakseimbangan kondisi lingkungan yang telah
terjadi serta mampu menghemat anggaran negara dengan tidak sama sekali
memberikan subsidi terhadap BBM yang selama ini seolah-olah menjadi beban berat
negara yang tentunya melalui proses peniadaan subsidi sesuai dengan tingkat
kebutuhan dan kewilayahan dimana persebaran mobil listrik tersebut. Namun
demikian, menjadi sebuah hal yang harus benar-benar diperhatikan adalah
tingginya angka kepemilikan masyarakat terhadap mobil pribadi juga secara tidak
langsung memberikan dampak terhadap lingkungan. Oleh karena itu, lahirnya
mmobil listrik sebagai hal yang telah diharapkan kemunculannya agar mampu
menjadi solusi terbaik bagi bangsa ini tetapi tidak menjadi beban berikutnya.
Jika mau menghitung minat masyarakat terhadap
kepemilikan kendaraan pribadi, maka yang menjadi fokus berikutnya adalah
penambahan volume jalan (baik kulaitas maupun kuantitas). Inilah yang kemudian
menjadi penting kiranya bagi para pemegang kebijakan untuk lebih bijak dan
terencana untuk meluncurkan mobil listrik nasional ke masyarakat. Hal yang
barangkali bisa menjadi pertimbangan adalah lebih mengutamakan produksi masal
mobil listrik diperuntukkan sebagai alat transportasi umum di ibu kota provinsi
diseluruh Indonesia untuk program jangka pendek (3 tahun pertama). Ini dimaksudkan untuk menekan angka
kemacetan serta kesemrawutan jalan di ruas-ruas jalan. Tentu saja bekerjasama dengan ORGANDA untuk hal
ini agar tertata baik dan berkelanjutan.
Pada program jangka menengah (3 tahun kedua),
peruntukan mobil listrik memenuhi/memasok kebutuhan alat transportasi umum di
wilayah kota/kabupaten satelit pendukung gerak perekonomian ibu kota provinsi.
untuk program jangka panjang diharapkan persebaran mobil listrik produksi dalam
negeri mampu menggeser alat transportasi umum yang menggunakan mobil
konvensional (berbahan bakar fosil) diseluruh penjuru daerah di Indonesia
dengan kebutuhan yang memadai dan berkesinambungan serta telah mampu
menempatkan pelayanan service, onderdil, dan penjualan di setiap daerah. Dengan
begitu, harapan lahirnya mobil nasional konvensional (berbahan bakar fosil) digeser
melahirkan mobil listrik nasional (MOLINA) untuk membangun bangsa yang
berdikari agar tidak lagi menjadi pasar empuk pabrikan otomotif dunia.
Diharapkan juga, setelah mampu memberikan
fasilitas terbaik bagi masyarakat nantinya angka kepemilikan mobil pribadi
dapat ditekan secara maksimal dan memang tidak harus menutup pintu bagi setiap
pribadi yang ingin memiliki mobil tersebut dengan membuat kebijakan-kebijakan
terkait seperti pembedaan pajak kendaraan antara alat transportasi dan pribadi
dan kepemilikan bagi setiap kepemilikan pribadi agar mampu menekan angka
kemacetan yang kian tak teratasi dengan semakin cepat bertambahnya populasi dan
sempitnya wilayah.
Kebutuhan MOLINA
Perlu adanya keterlibatan setiap lapisan
masyarakat serta pemegang kebijakan baik pusat dan daerah. Jika langkah-langkah
menuju bangsa yang berdikari dan mandiri digadaikan di atas kepentingan pribadi
untuk memperkaya diri, menyelamatkan diri sendiri dan korupsi tiada henti,
rasanya harapan ini akan sulit terwujud. Setelah persebaran mobil listrik di
berbagai ibu kota provinsi dan berbagai kota/kabupaten atau daerah di Indonesia
telah merata, sasaran berikutnya adalah memproduksi transportasi umum untuk
memenuhi kebutuhan di tingkat pedesaan. Dengan begitu, program pemerataan
pembangunan dapat berjalan karena infrastruktur yang selama ini menjadi alasan
dapat teratasi.
Bagaimana dengan
wilayah-wilayah pelosok? Tentu saja,
perluasan penjualan dan persebaran mobil nasional dibarengi dengan pemikiran
yang rasional. Artinya, mobil-mobil dan kendaraan konvensional yang telah ada,
dialihkan untuk wilayah pedalaman dan pelosok yang didukung dengan menyediakan
SPBU serta pelayanan lainnya dengan asumsi sebagai program jangka pendek,
setelah itu akan dilakukan hal sama dalam upaya pemerataan mobil listrik di wilayah
Indonesia. Lantas bagaimana dengan putra-putra SMK yang telah melahirkan mobil
konvensional? Hal ini akan berkaitan, dengan semakin banyaknya permintaan maka
secara tidak langsung akan memberikan beban terhadap produksi mobil listrik.
Dengan demikian, butuh pengalihan orientasi produksi pada putra-putra daerah
yang telah melahirkan mobil konvensional untuk bergeser ke mobil listrik.
Maka, bangsa Indonesia harus mengambil langkah
tegas dalam mempersiapkan persaingan trend pasar dunia. Biarkan saja mobil-mobil
konvensional yang saat ini dikuasi negara-negara berteknologi maju dan
Indonesia mempersiapkan diri menjadi produsen mobil listrik dengan melahirkan
program mobil listrik nasional (MOLINA) untuk kebutuhan bangsa sendiri kemudian
melakukan penetrasi pasar ke wilayah Internasional.
PERUNTUKAN DAN KEBUTUHAN MOBIL LISTRIK SEBAGAI MOBIL NASIONAL (MOLINA = MOBIL LISTRIK NASIONAL)
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:46 am
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
7:46 am
Rating:

No comments: