Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu,
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu,
tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu,
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu,
bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan,
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan,
bahasa Indonesia.
Fitrah manusia sejak dirinya dilahirkan ke dunia ada beberapa hal dan salahsatunya yakni berfikir. Berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983). Plato beranggapan bahwa berpikir adalah berbicara dalam hati. Sehubungan dengan pendapat Plato ini, ada yang berpendapat bahwa berpikir adalah aktivitas ideasional (Woodworth dan Marquis, dalam Suryabrata, 1995). Pada pendapat ini dikemukakan dua kenyataan, yakni:
1. Berpikir adalah aktivitas; jadi subyek yang berpikir aktif.
2. Aktivitas bersifat ideasional; jadi bukan sensoris dan bukan motoris, walaupun dapat disertai oleh kedua hal itu; berpikir menggunakan abstraksi-abstraksi atau “ideas”.
Secara umum, berfikir dapat dikatakan sebagai sebuah kegiatan seseorang dalam memanfaatkan segala potensi dalam dirinya untuk memecahkan permasalahan, memunculkan gagasan, serta melibatkan berbagai bentuk pengalaman dan mengikutsertakan mental dalam prosesnya.
Seperti dikatakan sebelumnya bahwa dalam proses berfikir akan memunculkan sebuah ide atau gagasan. Hal ini telah menempatkan sebuah runutan yang terstruktur dan rapi serta saling berkesesuaian menurut aturannya. Maksudnya adalah, ketika manusia berfikir maka akan timbul sebuah gagasan atau ide yang bersifat baru atau masih belum terpublikasikan. Dengan demikian, penting ketika setiap elemen pemuda (usia dan cara berfikir) mampu menempatkan dirinya pada kondisi yang seharusnya dan sesuai dengan keadaan terkini.
Merefleksikan diri pada sebuah keadaan (kongres pemuda) pada tanggal 28 Oktober 1928 silam, ketika setiap orang begitu sulit menyampaikan aspirasi, ketika setiap orang sulit menyampaikan ide dan gagasan, akan tetapi semakin membuat kesempatan berfikir kaum pemuda (usia dan cara berfikir untuk saat ini) menghasilkan sesuatu yangg sangat bermakna. Memberikan perubahan pandangan tentang semangat kebangsaan, semangat pendidikan serta semangat kesetaraan. Lain daripada itu, keterbatasan menempatkan setiap orang pada kondisi yang sama dan pada akhirnya didorong oleh kemauan yang kuat dan merumuskan sumpah yang sangat sakral untuk kita renungi dan pekikkan dalam hati sanubari terdalam.
Sudah saatnya kita, sebagai pemuda (usia dan cara berfikir) mencoba kembali merumuskan puing-puing semangat kepemudaan yang mungkin saja telah runtuh, membersihkan sisa-sisa semangat yang mungkin telah tercemar oleh kemajuan dunia yang tidak dibarengi oleh kemampuan pribadi-pribadi kita (usia dan cara berfikir sebagai seorang pemuda) dalam menjaga amanah sumpah pemuda untuk selalu menjaga nyala api semangat para pendahulu kita dan kembali mengobarkannya dalam sebuah bingkai kemajuan Bangsa Indonesia. Karena saat ini kita telah memiliki kesempatan berfikir yang luar biasa bebas tanpa ada penghalang namun harus tetap memperhatikan norma dan etika. Karena peradaban manusia telah memungkinkan semuanya (Demokrasi). Manakala kita telah lupa akan semangat pemuda, ingatkan diri kita tentang Idealisme bangsa serta semangat memajukan dan mempersatukan nusantara dibawah bendera merah putih dengan semangat kesetaraan dan kesahajaan.
KESEMPATAN BERFIKIR DAN REALISASI IDE/GAGASAN
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
10:47 am
Rating:
No comments: