MENYOAL TENTANG PLURALISME


Foto by Leo Bramantya
Seperti halnya sebuah cara berfikir yang tidak sederhana, seperti si pembuat film dokumenter bahwa cobalah untuk beragama secara biasa dan sederhana. Biasa seperti apa? Sederhana seperti apa? Sejauh mana batasan dan ruang-ruang jelajah tentang kebebasan dan kesederhanaan beragama? Karena setiap manusia mencari sejauh kemampuannya untuk mengukuhkan batasan-batasan imannya. Berbeda cerita tentang hubungan manusia dengan manusia yang teramat jauh bahkan belum menyentuh arinya itu berarti masih kulit luarnya dan masih sangat luar. Belum menyentuh kunci sesungguhnya, tentang bagaimana setiap manusia yang memiliki kepercayaan dan cara menyatu dalam baur sosio kultural yang tidak bias oleh kepercayaan masing-masing.
Menjadi bahasan yang teramat ‘seksi’ dan ‘menggoda’ jika membahas tentang pluralisme. Jika setiap manusia mampu menempatkan dirinya sebagai bagian terbesar elemen penyusun Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar negara Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Tetapi apakah sudah benar-benar mampu nilai-nilai tersebut terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari? Yang terjadi adalah lebih kepada bagaimana sekelompok orang mencoba memberikan toleransi bermasyarakat dan masih saja memunculkan fragmen-fragmen tertentu tentang yang lebih mayoritas dan minoritas. Namun demikian, usaha yang telah dilakukan untuk mendefinisikan ambiguitas tersebut sudah secara berkala dilakukan. Hal ini salah satunya ditunjukkan dengan adanya pembutan film dokumenter tentang keselarasan umat tionghoa (cina Bali yang ada di Kab. Bangli) dengan umat Hindu setempat. Kedua kelompok masyarakat berbeda keyakinan tersebut telah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu berbaur menjadi satu dan hingga kini masih tetap menjalankan masing-masing ajarannya walau mungkin telah terdapat beberapa pembauran kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi perilaku keseharian.
Film dokumenter yang diberi judul Lampion-lampion karya Dwitra J Ariana (Bli Dadap) dan telah menyabet beberapa penghargaan antara lain :
Terbaik I Festival Film Dokumenter Bali 2011
Terbaik I Festival Film Kearifan Lokal Kemenbudpar 2011
Best Documentary Movie on Documentary Days 2011 FE-UI
Best Director on Documentary Days 2011 FE-UI
Nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2011
mencoba menyuguhkan sebuah sajian apik bermakna mengenai fenomena tuna nurani antar manusia agar kembali sehat dan mampu mempertegas keberadaan kita sebagai manusia. Bertempat di Penggak Men Mersi - Denpasar beriring dengan diskusi ringan mengenai film dokumenter terkait.


MENYOAL TENTANG PLURALISME MENYOAL TENTANG PLURALISME Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 10:11 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.