![]() |
| Foto by Leo Bramantya |
Menjadi bahasan yang teramat ‘seksi’ dan
‘menggoda’ jika membahas tentang pluralisme. Jika setiap manusia mampu
menempatkan dirinya sebagai bagian terbesar elemen penyusun Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan dasar negara Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal
Ika. Tetapi apakah sudah benar-benar mampu nilai-nilai tersebut terimplementasi
dalam kehidupan sehari-hari? Yang terjadi adalah lebih kepada bagaimana
sekelompok orang mencoba memberikan toleransi bermasyarakat dan masih saja
memunculkan fragmen-fragmen tertentu tentang yang lebih mayoritas dan
minoritas. Namun demikian, usaha yang telah dilakukan untuk mendefinisikan
ambiguitas tersebut sudah secara berkala dilakukan. Hal ini salah satunya
ditunjukkan dengan adanya pembutan film dokumenter tentang keselarasan umat
tionghoa (cina Bali yang ada di Kab. Bangli) dengan umat Hindu setempat. Kedua
kelompok masyarakat berbeda keyakinan tersebut telah ada sejak berpuluh-puluh
tahun yang lalu berbaur menjadi satu dan hingga kini masih tetap menjalankan
masing-masing ajarannya walau mungkin telah terdapat beberapa pembauran
kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi perilaku keseharian.
Film dokumenter yang diberi judul
Lampion-lampion karya Dwitra J Ariana (Bli Dadap) dan telah menyabet beberapa
penghargaan antara lain :
Terbaik I Festival
Film Dokumenter Bali 2011
Terbaik I Festival
Film Kearifan Lokal Kemenbudpar 2011
Best Documentary
Movie on Documentary Days 2011 FE-UI
Best Director on
Documentary Days 2011 FE-UI
Nominasi Festival
Film Indonesia (FFI) 2011
mencoba menyuguhkan
sebuah sajian apik bermakna mengenai fenomena tuna nurani antar manusia agar
kembali sehat dan mampu mempertegas keberadaan kita sebagai manusia. Bertempat
di Penggak Men Mersi - Denpasar beriring dengan diskusi ringan mengenai film
dokumenter terkait.
MENYOAL TENTANG PLURALISME
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
10:11 pm
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
10:11 pm
Rating:


No comments: