RAMADHAN DAN MOMENTUM TITIK BALIK KESADARAN

Banyaknya permasalahan bangsa yang tidak terselesaikan secara baik telah  memunculkan pandangan sinis masyarakat terhadap pemerintah, penegak hukum dan unsur-unsur lain yang terdapat di dalamnya. Bahkan tidak adanya hasil pasti yang memuaskan atau setidaknya mampu memberikan rasa adil terhadap masyarakat tidak memberikan banyak pilihan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.  Kondisi yang terjadi memungkinkan masyarakat untuk lebih percaya terhadap hukum jalanan dan pada akhirnya memunculkan masalah-masalah sosial baru berikutnya. Hal ini tercermin dengan banyaknya kasus yang melibatkan konflik antar masyarakat, dengan tokoh masyarakat, dengan kelompok/golongan tertentu  atau konflik horizontal, pada akhirnya tidak didapatkan penyelesaian yang arif dari masing-masing pihak. Pemenuhan rasa keadailan yang tidak didapatkan, kemudian memicu adanya sebuah pilihan yang salah oleh sebagian besar masyarakat untuk menindaklanjuti sebuah keadaan.
Begitu halnya dengan keadaan politik yang semakin hari tidak berujung pada sebuah perbaikan kondisi yang stabil, serta ‘dagelan’ politik yang diperankan oleh para wakil rakyat dan tingginya ekspose media terhadap kesemrawutan kondisi tanah air telah mampu memunculkan efek jenuh luar biasa terhadap masyarakat. Kondisi ini didukung dengan perilaku para wakil rakyat yang secara moral tidak mampu menempatkan posisinya sebagai bagian dari cerminan sosial resource yang seharusnya menjadi panutan bagi para konstituennya di berbagai wilayah. Banyaknya kasus yang menimpa para pemegang kendali pemerintahan dalam upaya mencapai kondisi bangsa sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 sedikit banyak telah melunturkan kewibawaan serta bargaining position mereka di mata masyarakat. Hingga pada akhirnya kejenuhan tersebut meningkat dan allih-alih mendapatkan hasil maksimal dalam upayanya memajukan kewibawaan bangsa, yang tejadi adalah semakin jauh dari harapan dan buram ujungnya serta memperbesar keragu-raguan masyarakat mengenai kondisi bangsa ini.
Bulan Ramadhan yang akan tiba dalam hitungan beberapa hari saja, sebagai bulan yang dinantikan kehadirannya oleh seluruh umat Islam di seluruh belahan dunia tidak terkecuali masyarakat Indonesia yang gegap gempita dengan berbagai tradisinya menyemarakkan datangnya bulan yang penuh berkah untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Pemilik segala hal dan Yang Maha Adil diantara yang paling adil yakni Allah SWT. Menahan hawa nafsu, tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari dilanjutkan dengan sholat tarawih dan membaca Al-Quran pada malam hari sungguh upaya yang luar biasa ketika “keintiman” tersebut terjadi antara Allah SWT dan hamba-hambanya.
Namun demikian, dengan berbagai kondisi yang telah ada pada ramadhan-ramadhan sebelumnya ketika setiap orang tidak mampu mengendalikan nafsunya dan para wakil rakyat meributkan “kursi-kursinya” yang kemudian memunculkan sebuah statement bahwa pada akhirnya “keintiman” yang dibangun oleh hamba-hambanya dengan Allah SWT (vertical relationship), tidak pernah berbanding lurus dengan kondisi antar hamba-hambanya (horizontal relationship). Kiranya kita sebagai bangsa yang besar dan telah mendapatkan pengakuan atas keberhasilannya dalam mengedepankan system demokrasi dengan masyarakat muslim terbesar diseluruh dunia, harusnya bangga dan mampu mengambil intiasri dari sebuah nilai-nilai Islam dan menjalankan roda pemerintahan dan bermasyarakat. Agar hal tersebut mampu  menunjukkan adanya sedikit efek yang ditimbulkan dari adanya konsep spiritual yang dijalani bukan semata hanya bentuk ritual-ritual ibadah tanpa ada implikasinya terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama.
Kita sebagai pribadi yang secara fitrah telah diberi hak oleh Allah SWT dan menentukan pilihan, sepertinya kita kurang mampu untuk menghargai hak setiap orang dalam menjalani kehidupannya yang pada akhirnya selalu merasa berkepentingan untuk ikut dalam kehidupan orang lain. Pada akhirnya, yang timbul bukanlah prihatin melainkan menggunjing. Dalam hal ini bukan berarti kita serta merta melepaskan fitrah kita sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, akan tetapi lebih kepada bagaimana kita bersikap, membatasi diri dan bercermin pada keadaan yang terjadi agar kita senantiasa mampu memperbaiki diri. Kondisi semacam ini tidak lepas dari adanya sebuah kecerdasan sosial yang didukung oleh kecerdasan emosional dan menempatkan kecerdasan spiritual sebagai sandarannya. Khilstrom dan Cantor (Suyono, 2007) menemukan bentuk perilaku kecerdasan sosial yang berupa kompetensi sosial, diantaranya (1) menerima orang lain, (2) mengakui kesalah yang diperbuat, (3) menunjukkan perhatian pada dunia yang lebih luas, (4) tepat waktu dalam membuat perjanjian, (5) mempunyai hati nurani sosial, (6) berpikir, berbicara, dan bertindak secara sistemik, (7) menunjukkan rasa ingin tahu, (8) tidak membuat penialain tergesa-gesa, (9) membuat penilaian secara objektif, (10) meneliti informasi telebih dahulu sebagai bahan pertimbangan memcahkan masalah, (11) peka terhadap kebutuhan dan hasrat orang lain, (12) menunjukkan perhatian segera terhadap lingkungan, (13) membaca diversi sosial di masyarakat, (14) memahami pentingnya pembinaan diri seumur hidup, (15) mengenal tuntutan sosial, aksi sosial, dan merancang reformasi sosial, (16) mengembangkan belas kasih dan memerhatikan sesama.
Tidak cukup dengan hal itu, untuk membentuk karakter yang tepat perlu adanya pembentukan orang yang memiliki kecerdasan sosial yang dibarengi dengan pengembangan kualitas diri. Untuk mencapai manusia yang berkualitas, diperlukan kecerdasan emosi. Untuk mengembankannya perlu diperhatikan pendapat dari Goleman dan Stein & Book (Suyono, 2007), antara lain (1) Kesadaran diri – Emosional, (2) asertif, yaitu kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan jelas, spesifik, tidak ambigu, namun tetap peka terhadap kebutuhan dan reaksi orang lain, (3) kemandirian, (4) aktualisasi diri. Kemudian, kesemuanya dikomparasikan dengan peningkatan kecerdasan spiritual. Suyono (2007) mengemukakan, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk memecahkan soal makna dan nilai. Kecerdasan spiritual melihat bahwa suatu tindakan sebagai jalan hidup seharusnya lebih bermakna dibanding yang lain. Manusia sebagai makhluk spiritual ditandai dengan berbagai pertanyaan yang diajukan pada dirinya  dalam rangka megarungi lautan kehidupan. Mengapa saya dilahirkan? Makna hidup saya? Untuk apa saya hidup? Bagaimana hidup saya bisa bermanfaat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dilontarkan kepada diri sendiri kaitannya dalam usaha untuk memberikan refleksi atas apa yang telah dilakukan selama ini di dalam kehidupan masing-masing individu. Dengan harapan, adanya sebuah kesadaran tentang bagaimana memaknai dan menilai sebuah kehidupan.
Kiranya  waktu yang singkat dan terbatas nantinya di dalam pelaksanaan puasa di bulan ramadhan, kita sebagai individu mampu untuk menempatkan sebuah makna kesejatian dan nilai-nilai kehidupan juga menjadi saat yang tepat bagi kita untuk merefeleksikan apa yang telah terjadi terhadap bangsa ini agar terdapat sebuah kemanfaatan  dan memberikan implikasi yang signifikan terhadap adanya sebuah harapan baru tentang kondisi bangsa Indonesia yang adil dan makmur. Serta mampu memunculkan rasa keadilan di masyarakat dan menjadikan ramadhan sebagai titik balik kesadaran dalam ikhtiar bersama mencapai masyarakat Indonesia yang bermartabat. Semoga!!
RAMADHAN DAN MOMENTUM TITIK BALIK KESADARAN RAMADHAN DAN MOMENTUM TITIK BALIK KESADARAN Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 2:52 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.