LPG... Bom Inside Home


Gagasan mengenai konversi minyak tanah (mitan) ke LPG (3kg) telah didengungkan sejak awal Mei 2007 silam, tidak terasa sudah 3 tahun berlalu terhitung hingga 2010 ini dan juga tak kalah banyak kejadian-kejadian yang cukup menggemparkan mengenai penggunaan LPG. Bercerita singkat tentang awal dilaksanakannya program ini berlatar belakang guna mengatasi menipisnya persediaan mitan bagi para masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Diharapkan dengan adanya program ini dapat menggantikan kelangkaan mitan di masyarakat dan menekan pengeluaran rumah tangga karena telah dilakukan perhitungan bahwa LPG lebih dapat meminimalisir pengeluaran biaya rumah tangga dibanding penggunaan mitan.
Pelbagai program pendukung dilaksanakan oleh pemerintah dengan memberikan mini kompor gas dan LPG 3 kg secara cuma-cuma kepada masyarakat umum dan usaha mikro. Pendistribusian juga telah dilakukan ke pelbagai daerah di tanah air guna memenuhi target penyelesaian pada tahun 2010. Akan tetapi perencanaan tak semudah yang dibayangkan pada tahap pelaksanaan banyak mengalami kendala terkait sulitnya masyarakat menerima hal-hal baru secara tiba-tiba, merubah kebiasaan lama tentang penggunaan mitan menjadi kompor gas, faktor keamanan penggunaan LPG, dan paling penting banyaknya penyalur dan agen mitan yang akan kehilangan pekerjaannya karena semakin sulitnya pasokan mitan untuk ditemukan serta hal lainnya.
Ditahun-tahun pertama penggunaannya, LPG 3 kg sangat sulit diterima dengan kendala seperti tersebut di atas, namun demikian seiring berjalannya waktu memasuki tahun kedua program konversi mitan ke LPG permintaan terus meningkat karena telah dirasakan manfaatnya oleh para masyarkat umum dan usaha mikro yang merupakan target utama pengguna mitan yang telah beralih ke LPG. Kekhawatiran yang selama ini ditakutkan mereda seiring dengan pengalaman-pengalaman yang telah dilalui. Tetapi, bukan berarti tidak terdapat masalah pada proses berjalannya program tersebut, pembagian bantuan kompor gas dan LPG 3 kg secara cuma-cuma tidak sesuai sasaran. Hal ini dapat dilihat ketika pembagian mini kompor gas dan LPG ditujukan kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah, tak sedikit menjadi milik masyarakat menengah ke atas karena pola pembagian yang merata dihitung perkelurahan/perdesa yang mengakibatkan tidak terjadi filterisasi secara baik mengenai mana si kurang mampu dan mana yang mampu secara ekonomi. Namun tetap saja program itu terus berjalan hingga ke pelbagai daerah di tanah air guna mencapai target selesai pada tahun 2010. Bersamaan dengan penyebarluasan program dan pemenuhan pasokan LPG ke pelbagai daerah, pelbagai iklan pendukung muncul guna mensosialisasikan perihal tersebut bermuatan biaya lebih irit, lebih tahan lama, lebih murah dan kalimat-kalimat promosi lainnya untuk mengajak masyarakat menggunakan LPG 3 kg.
Meskipun iklan-iklan di media cetak dan elektronik menjadi media promosi bagi pemerintah guna membantu atau menjadi salah satu faktor pendukung terselesaikannya program konversi mitan ke LPG, tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan mitan bersubsidi sebagai bahan bakar utama bagi daerah-daearh di Indonesia terutama di wilayah pinggiran tidak dapat teratasi dengan baik. Bisa dilihat dari masih banyaknya tempat-tempat pendistribusian LPG 3 kg hanya di wilayah daerah dekat kota maupun yang dapat di jangkau, sedangkan di wilayah yang jauh dan tidak terjangakau pendistribusian belum juga merata. Selayaknya sebuah proyek yang memiliki perencanaan dan pemikiran, pada pelaksanaannya di awal tahun pertama menemui kendala yang masih bisa diatasi baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Namun, memasuki pertengahan tahun kedua pelaksanaan banyak masalah yang mulai bermunculan dari program konversi mitan ke LPG ini dari protes masyarakat yang masih saja merugi akibat menggunakan LPG karena tidak sesuai dengan kebutuhan penggunaan. Misalnya, pada saat menggunakan mitan seorang penjual lontong menghabiskan sedikit mitan untuk membakar kayu bakar yang kemudian pada pembakaran kayu selanjutnya juga hanya butuh disiramkan sedikit mitan, serta lama waktu memasak lontong mempengaruhi berapa banyak LPG yang dipakai serta keamanan penggunaan karena disinyalir tipisnya tabung LPG 3 kg hingga mampu mengancam keselamatan pengguna akibat meledaknya tabung tersebut. Bukan tanpa alasan ketakutan itu muncul karena sudah banyaknya kasus serupa yang mengancam keselamatan bahkan hingga hilangnya nyawa konsumen LPG 3 kg di pelbagai daerah ditanah air yang merupakan tempat-tempat yang telah menerima pendistribusian LPG dari Pertamina.
Bukan hanya sekali atau dua kali ledakan yang terjadi di akibatkan oleh LPG 3 kg tapi hingga awal tahun 2010 tercatat tidak kurang dari 200 kasus ledakan terjadi diakibatkan karena LPG 3 kg yang dikabarkan memiliki tabung yang tipis sebagai pengganti mitan bersubsidi sebagai bahan bakar utama untuk keperluan sehari-hari. Karena seringnya muncul berita ledakan yang juga mengakibatkan kematian terhadap pengguna LPG, memunculkan pelbagai ide guna meminimalisir terjadinya kemungkinan ledakan tersebut seperti penahan kunci tabung ke pipa (selang) penyalur gas biasa disebut Clam. Namun hal ini tidak cukup memberikan rasa aman terhadap pengguna LPG 3 kg karena belum ada yang menjamin seberapa besar tingkat keamanannya.
Antara kebutuhan dan rasa takut
Sejurus dengan hal itu, karena semakin sedikitnya mitan bersubsidi dengan harga rata-rata Rp 3000,-/lt sebagai bahan bakar utama masyarakat pada umumnya sebelum adanya proyek konversi mitan ke LPG megakibatkan pengalihan penggunaan mitan ke LPG 3 kg dengan asumsi harga yang dapat dijangkau (LPG 3 kg seharga Rp 15.000,- , mitan nonsubsidi seharga Rp 8000/lt (setelah mitan bersubsidi ditarik dari peredaran) dengan harapan dapat menggantikan mitan non subsidi serta lebih irit (dengan tujuan memenuhi kebutuhan masak sehari-hari) namun dengan rasa takut dan khawatir yang menghantui setiap akan menggunakan LPG berukuran 3 kg sebagai bahan bakar utama. Berbeda pada yang telah diceritakan sebelumnya bahwa seorang penjual lontong lebih memilih minyak tanah sebagai bahan bakar utama karena frekuensi penggunaan serta alat bakar yang digunakan adalah kayu bakar. Hal semacam ini juga dapat lebih memperbesar pengeluaran rumah tangga jika kayu bakar masih menjadi pilihan utama alat memasak yang diandalkan.
Namun hal ini tidak dapat lagi di pungkiri, terdesak sebuah kebutuhan dan sedikitnya pasokan mitan ke masyarakat (mitan bersubsidi di tarik dan mitan nonsubsidi di batasi peredarannya). Hal ini menjadikan sebuah pilihan sulit bagi masyarakat jika diharuskan untuk memilih, mana yang bisa memenuhi kebutuhan secara terus-menerus (LPG sebagai bahan bakar yang tersedia kapan saja) atau menimbun yang telah menjadi kebiasaan (mitan yang peredarannya dibatasi dan makin mahal karena tidak lagi bersubsidi). Sedangkan, kebutuhan sehari-hari untuk memenuhi rasa lapar dan roda ekonomi harus terus berputar guna mempertahankan pelbagai macam usaha untuk memenuhi kebutuhan. Maka dengan terpaksa masyarakat sebagai konsumen akhir dari sebuah proses industri mau tidak mau dengan rasa was-was dan khawatir menggunakan LPG 3 kg sebagai pilihan utama dan mencoba meniadakan alternatif lain sebagai hal yang tidak lagi dapat dipilih atau dimanfaatkan.
Seperti dikatakan sebelumnya rasa was-was yang menghantui bukan tanpa alasan hadir dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Semakin banyaknya berita mengenai meledaknya tabung gas LPG ukuran 3 kg memberikan pilihan yang kembali mempersulit kondisi masyarakat. Istilah “LPGku sayang, LPGku mengancam” nampaknya cocok disematkan pada kondisi saat ini. Bagaimana tidak, LPG sebagai bahan bakar utama yang telah memberikan sedikit pilihan terhadap masyarakat dapat sewaktu-waktu meledak dan meluluh lantakkan isi rumah seperti layaknya bom-bom teroris yang selama ini dirasakan oleh masyarakat hingga muncul istilah lain yakni “LPG, bom inside home” menjadi sebuah momok atau “hantu bergentayangan” yang telah menakuti setiap orang dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi para penggunanya.
Memasuki hari-hari semakin langkanya peredaran mitan di masyarakat (2010 sebagai tahun puncak penarikan mitan bersubsidi yang beredar di masyarakat), serta semakin banyaknya permintaan LPG di masyarakat ada baiknya pada tahun target selesainya program konversi mitan ke LPG ini menjadi sorotan yang tidak kalah penting bagi para stekholder guna mengevaluasi pelbagai kasus yang sedang berkembang dan yang telah terjadi mulai dari keluhan masyarakat, ketidaknyamanan masyarakat akibat dari rasa aman yang tidak didapat terkait seringnya LPG 3 kg yang meledak secara tiba-tiba ataupun kebocoran yang terjadi serta pelbagai kasus lainnya terkait LPG bersamaan dengan telah terpenuhinya target pemerintah dalam merealisasikan program konversi mitan ke LPG sebagai solusi memberikan kemudahan masyarakat akan tetapi juga perlu diperhatikan efek-efek yang kemudian muncul dalam proses penggunaannya.
Seperti yang kita perdengarkan bersama di televisi, radio, dan yang kita baca di koran dan media cetak lainnya menyebutkan bahwa semakin banyaknya LPG 3 kg yang telah terdistribusi kepada masyarakat meledak dan memakan korban jiwa dari luka ringan, berat, dan bahkan meniggal dunia. Tidak tanggung-tanggung jumlah korban jiwa yang didapati ketika mendengar berita kembali meledaknya tabung-tabung LPG tersebut merenggut nyawa hampir semua penghuni rumah konsumen LPG tersebut. Disamping memakan korban jiwa akibat yang ditimbulkan oleh ledakan LPG (utamanya yang berukuran 3 kg), memberikan pandangan lain oleh masyarakat pengguna beralih ke LPG 12 kg yang dianggap lebih aman walaupun tidak menutup kemungkinan juga dapat meledak sewaktu-waktu. Memang bukan hanya menjadi kesalahan salah satu pihak saja (pemerintah/pertamina), tetapi prkatek-praktek pengisian ulang illegal di lapangan yang melibatkan agen penyedia LPG juga harus menjadi sorotan. Ini merupakan efek domino dari sebuah system yang awalnya dibentuk oleh pemerintah yang kemudian berefek pada kehidupan masyarakat. Ketika pasar memberikan respon positif dalam hal ini konsumen menjadikan pemasaran LPG 3 kg meningkat seiring meningkatnya kebutuhan yang kemudian respon muncul dari para penyedia/penyalur tabung gas untuk memenuhi kebutan tersebut. Hingga pada akhirnya ide-ide nakal bermunculan karena capacity and security control terhadap pemenuhan kebutuhan tidak berjalan beriringan dengan peningkatan permintaan yang dikatakan pada sebelumnya.
Karenanya, tidak menutup kemungkinan pengalihan konsumen terhadap pemakaian LPG yang sebelumnya berukuran 3 kg menjadi 12 kg mengalami peningkatan, yang kemudian program pemerintah yang semula bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kemurahan pembiayaan kepada masyarakat berbalik menjadi awal dari sebuah malapetaka dan penderitaan bagi masyarakat karena mahalnya biaya yang dikeluarkan. Sebagai sebuah proyek besar yang tentunya telah diperhitungkan sebelumnya, mengenai apa-apa saja yang akan terjadi menunjukkan tidak siapnya para steakholder untuk memberikan layanan yang maksimal terhadap masyarakat. Rasa takut yang menyelimuti masyarakat adalah teguran secara tidak langsung terhadap kasus yang telah banyak terjadi dan tidak seharusnya aksi menutup mata dan telinga dilakukan oleh para pemegang kekuasaan di negeri ini. Dikatakan demikian karena semakin banyak kasus meledaknya LPG 3 kg, tetapi semakin tak terdengar pula bentuk penanganan yang komprehensif ditunjukkan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab dan memiliki kewenangan atas hal itu.

Penulis adalah anggota HMI Cabang Denpasar
(Pernah menjadi pengurus HMI Cabang Denpasar periode 2009/2010)
Mahasiswa Fakultas Pertanian UNUD
LPG... Bom Inside Home LPG... Bom Inside Home Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 5:35 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.