sekelumit cerita hidupku

Sudah 4 tahun lebih aku meninggalkan tanah kelahiranku di pulau jawa. Mengingat belum lama aku pindah dari rumah lamaku di kompleks perumahan sederhana dengan tipe 36 berderet cukup rapi menampakkan kesantunanya. Benar sekali kesantunannya yang aku alami kira-kira 16 tahun lalu dimulai saat diriku masih duduk di bangku sekolah dasar hingga akhirnya kutinggalkan sisa-sisa kesantunan itu menuju dusun baru yang letaknya tak jauh dari kompleks perumahan.  Hampir tepat 9 tahun aku tinggal di kompleks perumahan yang dulu cukup sederhana dengan keramaian serta keramahan penduduk yang sangat kental bagiku.
Menghabiskan waktu sore hari dengan memancing ikan di sungai belakang perumahan dekat lapangan rumput yang banyak terdapat kerikil-kerikil kecil serta rumput sedikit hijau dan lebih banyak tampak mongering karena tak terawat. Di lapangan itu sering diriku bermain olahraga yang saat ini menjadi cerminan wajah cintanya rakyat di negeri ini terhadap bangsanya atau lebih dikenal dengan istilah “nasionalisme 90 menit” yakni sepak bola, meskipun tanpa sepatu atau sepak bola kampung tepatnya yang biasa “nyeker”. Olahraga yang menjadi alat pemersatu paling efektif saat ini namun banyak masalah yang terjadi di dalam organisasi yang mewadahinya. Ya sudahlah, itu cukup menjadi pembicaraan dan bahasan para ahli di bidangnya. Aku akan melanjutkan ceritaku...
Setiap sore tepat pukul 3 perjalanan di mulai dengan membawa pancing yang terbuat dari bambu. Sebelum ke sungai agenda sebelumnya adalah mencari umpan cacing. Kalian tau dimana kami mencarinya?? Coba tebak…
Got dan tempat sampah di samping sungai, tempat pembuangan sampah rumah tangga penduduk perumahan yang sangat tidak sedap di pandang mata ataupun di hirup aromanya. Tapi jangan salah, disitulah surga bari para cacing. Sisa-sisa sampah dapur yang telah terurai menjadikan tanah subur dan cacing-cacing tanah pengurai menjadi gemuk dan sangat mudah ditemukan. Setelah cukup mendapat cacing, perjalanan kami mulai dan lanjut memancing hingga matahi tenggelam di peraduan mengisyaratkan waktu magrib menjelang. Begitu setiap hari seterusnya.
Kembali ke masalah persepakbolaan. Jika rasa enggan memancing timbul, betul saja hanya sepak bola yang kita mainkan. Bergulat dengan debu, srudug sana senggol sini tending sana sikut sini itulah seni sepak bola kampung. Kadang bola yang kita tendang sampai ke jalan baypass yang terdapat lalulalang bus antar provinsi, truk gandeng dan kendaraan pribadi. Sering kali bola “bleter” atau apalah namanya sering meletus dilindas truk, dan pastinya membuat semua yang ikut serta wajib iuran untuk membeli yang baru. Terus menerus kegiatan itu hingga aku duduk di bangku SMP kelas 3. Setelah itu, kelargaku pindah ke dusun yang sudah aku ceritakan di awal tulisan ini kubuat.
Kepindahan ini terasa janggal tapi cukup nyaman buatku, jujur aku merasa ada yang berubah dari nyamannya perumahan yang dulu menjadi tempat tinggalku selama 9 tahun. Gaya hidup perkotaan mulai menghempaskan wajah lugu warga dusun dan kampung yang tinggal. Gengsi dan tradisi rumput tetangga lebih subur dari rumput di rumah sendiri mulai kental. Dan mungkin itu yang membuat keluargaku memutusakan pindah.. semua masih mungkin. Entah apa alas an pastinya. Tapi rumah yang aku tingggalkan tak dibiarkan kosong. Sampai tulisan ini kubuat, rumah itu masih di kontrakkan. Kelas 1 SMA aku memulai semua di rumah baruku di dusun dekat rumah lamaku. Serasa lebih tenang dan nyaman karena kehidupan bermasyarakat lebih terasa hingga akhirnya aku hanya menghabiskan waktu 3 tahun di dusun itu selepas SMA aku menuju pulau seribu pura. Yup, untuk melanjutkan studi kesarjanaanku yang sudah hampir 4 tahun lebih aku jalani..
Dalam benakku saat ini, aku ingin bergegas menyelesaikan studyku dan kembali pulang ke tanah jawa dan melanjutkan hidupku..

Kucukupkan cerita ini sampai disini dan akan aku lanjutkan saat diriku selesai menjalani study kesarjanaanku..
C_U
sekelumit cerita hidupku sekelumit cerita hidupku Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 4:08 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.