Suatu waktu disiang hari yang terik beberapa cucian
piring dan gelas kotor tertumpuk dibak cuci piring konvensional (alias ndeso
ndeprok dilantai tanpa wastafel cuci), sepupuku yang baru berusia 4 tahun ini tiba-tiba
saja mencuci semua piring dan gelas kotor yang teronggok (kebiasaan buruk
dirumah yang tidak patut dicontoh dan harus diperbaiki yakni meninggalkan
piring dan gelas kotor sisa makan hingga menumpuk kemudian baru dicuci) dan
dengan bangga menyodorkan hasil cucian ke ibuku yang sedang sibuk di dalam
dapur, Nampak kaget dan heran barangkali melihat tingkahlaku sepepuku ini.
Hasil cucian bersih dan tidak ada pecah appaun dari piring dan gelas itu.
Sesaat kemudian ibuku bercerita, sekecil itu sudah bisa mencuci piring karena
meniru (melihat dan mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa disekitarnya).
Hanya satu kekhawatiran ibuku jika piring-piring itu pecah apalah jadinya
tempat cucian dan sepepuku yang belia itu.
Dengan cekatan merapikan piring dan gelas bersih
seketika. Keberaniannya mencoba segala hal menjadikan aku sadar tentang
imajinasi anak kecil yang liar. Tak pernah khawatir akan gagal dan polos
seperti tak memiliki rasa bersalah. Perbedaannya, pada posisi demikian
kekhawatiran tentang kesalahan anak kecil akan menjadikan maklum orang-orang
disekitar dan mengajarkan untuk lebih baik. Sedangkan pada orang dwasa,
kesalahan adalah segala hal yang harus secara sadar dipertanggungjawabkan agar
kebenaran menjadi syarat mutlak atas pembelajaran dan pengasuhan terhadap diri
sendiri, anak, karyawan, orang lain, juga contoh bagi orang yang tidak kita
kenal sekalipun.
Semoga saya pribadi dan para pembaca kian sadar
kegagalan adalah bukan sebuah keburukan melainkan pembelajaran yang indah
karena melepasliarkan imajinasi masa kecil menjadi pembelajaran yang penuh
tanggung jawab saat dewasa.
BELAJAR DARI ADIK SEPUPUKU
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
1:32 pm
Rating:
No comments: