Penggalan perbincangan antara ndomble, ceking, cungkring (NCC) dan Kayud (seorang yang dituakan dan sarat pengalaman) di sebuah rumah sederhana, keduanya merupakan Warga Negara Endonesa (WNE)
Ndomble : gimana kabar bang?
Kayud : baik d’.
Ndomble : sibuk apa sekarang?
Kayud : ngurus kerjaan aja di ibukota.
Ndomble : wah, sudah sukses ya sekarang
Kayud : ya Alhamdulillah, namanya juga usaha yang penting bisa buat menuhi kebutuhan sehari-hari dan nyekolahin anak-anak.
Ndomble : iya bang, gimana rasanya hidup di ibukota?
Kayud : ya begitu itu, ada enak ada nggaknya. Saya mau cerita, dengerin ya.
Ndomble : iya bang.
Kayud : jadi sebenernya saya itu miris lihat temen-temen pejabat yang sering muncul di tv pake gaya parlente, mobil mewah dan segala macam aksesorisnya. Pernah dulu, sewaktu ada masalah, beberapa orang yang sering kalian lihat di tv itu datang ke rumah saya, pakaian ala kadarnya naik taxi dan ongkos taxinya itu yang bayarin juga saya (geleng-geleng kepala). Pernah ada yang dipenjara tapi untung gak di blow up media, saya yang jemput ke rutan lalu saya antar pulang ke rumahnya. Pernah satu waktu beberapa pejabat pemerintahan itu pengen keluar dari rutan untuk kumpul sama keluarganya, saya juga yang jemput. Saya sendiri heran kok bisa keluar masuk seenaknya dari rutan, ternyata setelah saya tanya, mereka bilang orang dalam pasang tarif untuk hal semacam ini. Kisaran tarifnya antara E$ 25 – 50 juta/jam itu untuk pejabat biasa (belum terkenal), belum lagi yang sudah mondar-mandir masuk pemberitaan bisa lebih dari itu. Apalagi kasus korupsi, uang hasil korupsi itu habis untuk keluar masuk rutan aja, gak berbekas.
Ceking : gitu ya bang..
Kayud : iya dek, itu hanya beberapa pengalaman saja yang pernah saya alami. Saya itu kadang sampai ada pikiran untuk pergi ke daerah lain dan ganti kewarganegaraan. Bayangkan saja, kalo sampai kita gak bisa jaga diri, bisa-bisa kita ikut terseret ke dalamnya.
Ndomble : iya juga bang, siapa juga yang mau..
Kayud : tapi kalian mumpung masih muda, tempatkan diri kalian di posisi yang tepat untuk melakukan perubahan. Jangan sampai kondisi macam ini di lanjutkan.
NCC : InsyaAllah bang..
Kayud : jangan sampai temen-temen di tempat lain punya pikiran seperti saya, mau pindah ke negeri lain. Lebih baik benahi negeri ENDONESA ini untuk masa depan yang lebih baik.
NCC : iya bang..
Kayud : ya sudah, lanjutkan perjuangan temen-temen sebagai mahasiswa. Saya harus pamit karena pesawat saya terbang sore ini. Masih belum beres-beres.
NCC : siap bang…
Itulah sekelumit cerita dari beberapa orang WNE yang ada di negeri ENDONESA. Belum juga tuntas masalah yang sama tentang orang yang keluar masuk rutan seenaknya. Juga fasilitas yang didapat di dalam rutan, wakil rakyatnya yang katanya mewakili suara hati penduduk negeri ENDONESA sibuk bertengkar di dalam gedung yang atapnya berbentuk batok kelapa terbalik dan malah katanya akan di bangun bangunan baru yang menghabiskan dana triliunan E$. belum juga selesai masalah yang lama, muncul lagi masalah baru. Kasus bank swasta yang nama belakangnya seperti bunga tury juga mafia-mafia di dalam birokrasi mulai dari hukum hingga pajak belum juga rampung. Dan sekarang anggota-anggota dewan yang katanya mewakili suara rakyat sedang ribut ngebahas angket upeti, koalisi, reshuffle, posisi menteri dan lain sebagainya.
Disisi lain, rakyat pinggiran dan rakyat miskin kota juga penghuni pulau-pulau lain di negeri ENDONESA masih harus berjuang memenuhi kebutuhan perutnya. Seakan lupa dengan tugasnya, yang katanya mereka adalah para wakil rakyat melupakan pemilihnya. Belum lagi kondisi negeri yang belum tuntas, ada dagelan dan panggung sandiwara baru yang dimainkan dengan para lelakon penanggung jawab si kulit bundar di puncak pimpinan tanpa prestasi melenggang manis bagaikan putra mahkota yang baru naik tahta. Organisasi kulit bundar itu PSSE (Persatuan Sepak Bola Seluruh Endonesa) namanya. Yang sampai-sampai semua elemen politik merasa berkepentingan untuk ada didalamnya. Yang pakar ini ngomongin itu, yang pakar itu ngomongin ini seperti merasa paling mampu mengatasi masalah di negeri ini, padahal juga belum tentu mampu.
Lepas dari masalah si kulit bundar dan panggung politik negeri ENDONESA, masalah nasib petani yang selama ini merupakan penjaga gawang terakhir penyedia kebutuhan pangan terutama beras seperti di anak tirikan. Belum lagi mutu kehidupan petani (nelayan, pekerja kebun, dll) yang setiap tahunnya tanpa ada perubahan signifikan semakin mempermerah daftar nilai di buku raport pemerintahan di negeri ENDONESA ini.
ENDONESA…. Masih Adakah Harapan Tentang Negeri Ini?
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
12:15 pm
Rating:
No comments: