Menalar respon, ruang lingkup sosial dan etika bermasyarakat.



Pada suatu waktu terdapat diskusi agama antara lebih dari dua orang sembari membicarakan pandangan tokoh agama dalam menyikapi suatu permasalahan. Tokoh agama tersebut berada jauh dari Negara tempat tinggal orang-orang dalam diskusi tersebut. Sebagian orang dalam diskusi tersebut pro terhadap tokoh yang dianggapnya brilian dan progresif. Sebagian lainnya kontra, menganggap tokoh tersebut terlalu berbelit dan rumit.
Setiap orang sah-sah saja memiliki pandangan seperti halnya saya dalam menulis artikel picisan ini. Bisa dibaca beramai-ramai atau diabaikkan tanpa harus terganggu dengan pandangan yang saya tulis dalam artikel ini. Namun demikian, kiranya ada sebuah penyaring diri dalam mengekspresikan sesuatu ke ranah publik. Baik dalam perkataan, perbuatan, atau pandangan akan suatu hal.
Bagi sebagian kalangan, mencantumkan pemikiran-pemikiran tokoh ternama dalam sebuah tulisan akan sangat baik dalam memberikan referensi kemana pembaca merujuk artikel yang sedang dibacanya. Namun karena pandangan ini berupa tulisan bebas. Tak perlu melampirkan tokoh terkemuka atas pendapatnya tentang suatu hal.
Belakangan, kondisi social masyarakat sedang sakit. Tak perlu menjadi ahli dalam melakukan penilaian atas hal semacam ini. Banyak terlihat secara kasat mata dan jelas terjadi di sekitar kita. Kemudahan akses informasi melalui teknologi informasitelah membelah batasan-batasan “private” antar manusia. Menjadikan sebuah kerumitan yang kompleks dalam pikiran-pikiran setiap manusia.
Berkaitan dengan topik yang sudah saya sampaikan sebagai pembuka di atas, merupakan sebuah contoh “konflik” dalam bermasyarakat. Parahnya, meski kadang orang yang kita kenal sangat religius namun pada satu titik, karena merasa pro terhadap apa yang diminiatinya menjadikan orang tersebut lupa tujuan. Tujuan dari sebuah gagasan yang telah disampaikan. Melenceng pada kesalahan bertutur dan membuncahkan keangkuhan karena merasa apa yang telah disukainya selama ini akan segera dapat dibuktikan kebenarannya.
Secara emosional, hal itu tentu memuaskan dinamika yang terjadi dalam dirinya sendiri. Mendapati kesesuaian berfikir dan menjadikannya benar secara bersama-sama dalam satu golongan. Bukankah, sebuah pembuktian tak perlu menyiratkan “dendam”? Seringkali saya lupa diri, bahwa tujuan dari sebuah keadaan yang sengaja dibuat adalah untuk memurnikan pandangan dan mendapati hasil akhir yang membahagiakan. Bukan untuk melegakan hati yang selama ini tersakiti karena cemooh dan “senggoolan” yang tidak bernilai.

Menalar respon, ruang lingkup sosial dan etika bermasyarakat. Menalar respon, ruang lingkup sosial dan etika bermasyarakat. Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 2:34 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.