![]() |
Anak 1 :
pak, lihat di ibu kota Negara kok gitu ya.
Anak 1 :
lihat loh pak di tv itu (sambil mengarahkan telunjuk ke tv). Berita maceeet
terus, rebutan jalan.
Anak 2 :
iya pak, ibu kota Negara jadi ruwet gitu (mengamini perkataan saudaranya).
Bapak : terus
kenapa le? (memancing opini sang anak)
Anak 1 : belum
lagi kalo hujan.
Anak 2 : iya
pak, makin macet. Genangan air bahkan banjir parah.
Bapak : lha
iya, baiknya gimana? Kalo dari dulu diperhatikan dengan tepat gak begitu le.
Anak 1 : aku
punya gagasan pak buat kota tempat tinggal kita, biar gak telat penangannya.
Bapak :
gimana le?? (antusias)
Anak 1 : jadi
gini pak……
Manusia itu cenderung mencari solusi/cara mengatasi
masalah setelah masahnya sendiri muncul. Bayangin loh pak cara mengatasi, masih
cara (penekanan kata sambil mengernyitkan dahi). Karena memang di ibu kota
Negara itu banyak kantong rejeki ya pak jadi banyak orang pindah sampai-sampai
padat, tapi kan harusnya sudah diantisipasi dari dulu. Sekarang kota tempat
tinggal kita ya pak, apa harus menunggu masalah muncul baru solusi dicari? Gak
kan pak. Aku itu pengen aspirasi kecil semacam ini di denger sama orang-orang
di pemerintahan sana. Ini gagasanku pak.
Hal yang paling hakiki dan kekal didunia ini adalah
perubahan pak. Kecepatannya menembus waktu manusia untuk bisa menyandingnya
bahkan manusia harus mengejarnya. Aku gak pengen pak perubahan itu menjadikan
kota tempat tinggal kita makin tertinggal dan gak ada harapan. Aku pengen bisa
punya keluarga di kota ini dan beranak cucu di kota ini. Sekolah boleh jauh
keluar pulau, sampai keluar Negara juga boleh. tapi harus balik ke kota/kampung
lagi biar tetap ada yang menikmati perkembangan kampung. Setiap kota boleh maju
dan berkembang menyaingi perubahan. Setiap kota berhak meningkatkan kualitas
hidup warganya, boleh bersaing sehat dengan daerah-daerah disekitarnya, bahkan
berhak menjadi percontohan agar memotivasi perubahan-perubahan yang baik ke
kota-kota yang lainnya. Karena penghuni kota adalah manusia yang mengalami itu
semua.
Macet, banjir, kepadatan penduduk, kesenjangan
sosial, rasa keadilan tergadaikan, dan hal-hal lain yang memunculkan konflik
horizontal manakala manusia tak lagi mampu mengendalikan dirinya dekat dengan
Tuhannya. Aku gak pengen itu terjadi dengan penduduk kota tempat kelahiranku pak.
Sumber masalahnya adalah rasa gengsi yang mendahului pikiran manusia pak,
bayangkan ketika setiap orang menuntut hak-haknya tapi mengabaikkan hak orang
lain bahkan sampai lalai kewajiban. Makanya pak, sebelum semua telat dan jadi
kronis apa iya kota kita bisa dipindah ke tengah laut atau planet lain, nggak
kan pak!
Semuanya diawali dari transportasi pak. Lihat aja pak
sudah banyak contohnya kalo berita-berita di tv bilang, kapasitas tampung ibu
kota sudah tidak memadai karena banyaknya penduduk ditambah dengan kepemilikan
kendaraan pribadi yang berlebihan serta teknologi perkotaan yang tidak
mendukung. Laju pertumbuhan penduduk dan kendaraan pribadi dengan fasilitas
public atau infrastrukutu tidak berjalan beriringan malah infrastruktur
ketinggalan jauh. Harusnya kota kita mendahului solusi dari kota kecil untuk
negeri. Dan menghilangkan alasan, ini belum waktunya, masih banyak yang lebih
penting dari itu dan lain-lain. Padahal dengan masalah transportasi selesai,
semua maslah akan terpecahkan karena sejatinya manusia itu makhluk sosial (BERINTERAKSI
DAN SELALU BERGERAK). Lha kalo gak leluasa mana bisa masalah lain terpecahkan!!
Jadi ini aspirasiku pak. Bukan lagi wacana tapi harus ada pembahasan yang
konkrit dan menatap masa depan. Dunia tak lagi bisa menampug keterlambatan pak.
Kalo ini jadi solusi bisa dibayangkan betapa kota kita ini yang kecil jadi
terdepan dalam perkembangan. Jadi gini pak… (menerawang)
![]() |
| peta mojokerto menyesuaikan jalur tMj (doc. pribadi) |
![]() |
| bentuk asli jalur pada peta mojokerto (doc. pribadi) |
![]() |
| bus tMj tampak kiri (doc. pribadi) |
![]() |
| bus tMj tampak kanan (doc. pribadi) |
- Pengembangan proyek trans Majapahit (tMj) antar kotamadya dan kabupaten HARUS bekerjasama sebagai solusi bersama mensejahterakan masyarakat!!!!
- Bentuk armada bisa berupa mini bus atau trem (kereta tengah kota dengan kabel listrik di atas) dan tidak perlu berfikir sampai monorel dengan sumber tenaga fosil (untuk menekan bengkaknya anggaran) dan berangsur ke gas, tenaga surya dan tenaga listrik (sesegera mungkin).
- Peralihan sumber daya (2 mikrolet di tukar dengan 1 mini bus, artinya 2 sopir mikrolet berbagi tugas dalam 1 operasional tMj sebagai sopir yang berbagi jadwal (04.00 – 12.30 dan 12.30 – 21.00 WIB) kurang lebih masing-masing 8,5 jam.
- Menempatkan mikrolet alih daya sesuai kebutuhan sebagai feeder sesuai rute peta tMj dengan jam operasional yang sama.
- Sistem gaji sopir tMj secara bulanan bukan hasil kejar setoran, begitu halnya dengan sopir feeder (mikrolet).
- Menetapkan tarif tMj maupun feeder sebesar Rp 1.500 jarak tempuh jauh ataupun dekat dalam satu (1) rute dan tarif meningkat sesuai tingkat pendapatan/upah minimum kota/kabupaten.
- Membatasi peredaran BBM subsidi di kota/kabupaten.
- Bekerjasama dengan DLLAJ dan kepolisian wilayah kota dan kabupaten untuk memberikan tanda resmi mobil niaga (contoh: mobil box, truk, pick up box dengan persyaratan, dll).
- Menjadikan becak yang masih ada dan tidak menambah armada sebagai transportasi pariwisata di kawasan situs purbakala majapahit (trowulan).
- Memberikan keleluasaan becak untuk beroperasi di jalanan kota/kabupaten.
- Meniadakan becak bermesin.
- Membuat kebijakan bus karyawan pada setiap perusahaan skala industry besar.
- Data jumlah kendaraan bermotor (roda 2 dan 4) pribadi di kota/kabupaten.
- Naikan harga tiket parkir untuk roda 2 antara Rp 2.000 (lokasi tertentu) - Rp 5.000 (lokasi tertentu) dari pukul 04.00 – 21.00 WIB.
- Naikkan harga tiket parkir untuk roda 4 antara Rp 5.000 (lokasi tertentu) – Rp 10.000 (lokasi tertentu) dari pukul 04.00 – 21.00 WIB.
- Khusus mobil niaga diberikan tarif parkir biasa antara pukul 04.00 – 10.00 WIB.
- Wewajibkan seluruh PNS (pegawai pemkot/pemkab/kecamatan/guru) kota/kabupaten menggunakan tMj, dan tidak berlaku pada tenaga penyuluh lapangan karena harus masuk sampai ke pelosok dan menggunakan plat merah.
- Masih banyak kebijakan lain yang bs direkomendasikan atau dipikirkan.
Kita tidak harus menunggu banjir datang dulu, macet
toal datang dulu, kesemrawutan datang dulu, kesenjangan sosial makin dalam
lubangnya yang berarti memperlebar jarak antara si miskin dan si kaya arena
memupuk rasa gengsi dan bermewah-mewah menggunakan mobil pribadi. Perlu digaris
bawahi setiap orang berhak menikmati hasil jerih payahnya, akan
tetapi adalah tugas pemerintah sebagai penyelenggara Negara mengendalikan
keinginan setiap warganya untuk hidup berdampingan dalam keadilan sosial dan pemerataan
kesejahteraan. Maka itu pak, aku berfikir begini karena gak ingin tempat
kelahiranku mencetak sumber daya manusia yang menghambur-hamburkan hasil jerih
payahnya. Semua tidak akan terlambat jika kebijakan berpihak pada pemerataan
dan kesejahteraan. Dengan adanya transportasi umum, kebutuhan dasar manusia
untuk melakukan mobilitas perekonomian tidak akan terhambat, mobil adalah
konsekuensi bagi setiap pribadi untuk mengeluarkan biaya lebih karena mereka
mampu memilikinya dengan berapapun harga belinya dulu yang pasti tidak ada
mobil dibawah Rp 20.000.000,- kan, begitu pula motor.
Dengan perkembangan dunia yang pesat dan mobilitas
tinggi, aku berharap kota tempat kelahiranku ini memiliki visi kedepan utnuk
membangun sarana umum sebagai modal utama melanggangkan keadilan sosial pak.
Adanya transportasi umum tidak akan menghalangi penduduknya untuk melakukan
aktifitas, interaksi sosial, meningkatkan taraf perekonomian, dan lain
sebagainya. Bayangkan berapa dana yang masuk ke kas daerah dengan penggunaan
transportasi umum dan membatasi kendaraan bermotor pribadi. Dampak lingkungan
yang sehat, membudayakan jalan kaki, pola pikir manusia yang berkembang, perputaran
anggaran bisa untuk pembangunan desa tertinggal dan penyediaan rumah layak huni
bagi masyarakat kurang mampu dan membudayakan bersepeda atau naik transportasi
umum bagi masyarakat dan keluarga modern di masa mendatang dan juga bisa
mengurangi beban tamping kota yang makin tua. Aku berharap ini adalah bagian
dari VISI MOJOKERTO 2025 dan menjadikan
Jawa Timur pelopor provinsi mandiri yang terkoneksi tanpa bus antar kota dalam
provinsi. Aspirasi ini baik kiranya diikuti oleh kota-kota lain
disekitarnya untuk mempermudah koneksi antar wilayah di Jawa Timur.
Membayangkan jika setiap kita berhenti di perbatasan kota sudah ada
transportasi masal lain yang menunggu. (Trans Majapahit (Mojokerto), Lamongan
Connectivity, Trans Tuban, Gresik Conector, Trans Deltras (Sidoarjo), Malang
Armada, Trans Jombang, Monorel Surabaya, Trans Pasuruan, Probolinggo Connector,
dll).
Anak 1 :
kira-kira begitu pak..
Anak 2 :
bengog…
Bapak :
bagus le, jangan menyerah ya untuk menyampaikan aspirasi. Kekuatan tulisan
kadang bisa membuat orang bergerak. Terus menulis dan berfikir.
Anak 1 : amin
pak
Anak 2 :
amiiinnnn..
(senja berlalu dan memasuki waktu magrib, dan semua
keluarga bergegas menuju masjid)
KETIKA TRANSPORTASI MASAL ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KELUAR
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
5:59 am
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
5:59 am
Rating:




.jpg)
No comments: