KETIKA TRANSPORTASI MASAL ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KELUAR

Dialog 2 orang  anak remaja dengan bapaknya yang hidup disebuah kota kecil penyangga ibu kota provinsi di timur pulau jawa sambil nonton tv (chanel berita) di sore hari:
Anak 1  : pak,  lihat di ibu kota Negara kok gitu ya.
Bapak    : gitu, gmn le?
Anak 1  : lihat loh pak di tv itu (sambil mengarahkan telunjuk ke tv). Berita maceeet terus, rebutan jalan.
Anak 2  : iya pak, ibu kota Negara jadi ruwet gitu (mengamini perkataan saudaranya).
Bapak    : terus kenapa le? (memancing opini sang anak)
Anak 1  : belum lagi kalo hujan.
Anak 2  : iya pak, makin macet. Genangan air bahkan banjir parah.
Bapak    : lha iya, baiknya gimana? Kalo dari dulu diperhatikan dengan tepat gak begitu le.
Anak 1  : aku punya gagasan pak buat kota tempat tinggal kita, biar gak telat penangannya.
Bapak    : gimana le?? (antusias)
Anak 1  : jadi gini pak……
Manusia itu cenderung mencari solusi/cara mengatasi masalah setelah masahnya sendiri muncul. Bayangin loh pak cara mengatasi, masih cara (penekanan kata sambil mengernyitkan dahi). Karena memang di ibu kota Negara itu banyak kantong rejeki ya pak jadi banyak orang pindah sampai-sampai padat, tapi kan harusnya sudah diantisipasi dari dulu. Sekarang kota tempat tinggal kita ya pak, apa harus menunggu masalah muncul baru solusi dicari? Gak kan pak. Aku itu pengen aspirasi kecil semacam ini di denger sama orang-orang di pemerintahan sana. Ini gagasanku pak.
Hal yang paling hakiki dan kekal didunia ini adalah perubahan pak. Kecepatannya menembus waktu manusia untuk bisa menyandingnya bahkan manusia harus mengejarnya. Aku gak pengen pak perubahan itu menjadikan kota tempat tinggal kita makin tertinggal dan gak ada harapan. Aku pengen bisa punya keluarga di kota ini dan beranak cucu di kota ini. Sekolah boleh jauh keluar pulau, sampai keluar Negara juga boleh. tapi harus balik ke kota/kampung lagi biar tetap ada yang menikmati perkembangan kampung. Setiap kota boleh maju dan berkembang menyaingi perubahan. Setiap kota berhak meningkatkan kualitas hidup warganya, boleh bersaing sehat dengan daerah-daerah disekitarnya, bahkan berhak menjadi percontohan agar memotivasi perubahan-perubahan yang baik ke kota-kota yang lainnya. Karena penghuni kota adalah manusia yang mengalami itu semua.
Macet, banjir, kepadatan penduduk, kesenjangan sosial, rasa keadilan tergadaikan, dan hal-hal lain yang memunculkan konflik horizontal manakala manusia tak lagi mampu mengendalikan dirinya dekat dengan Tuhannya. Aku gak pengen itu terjadi dengan penduduk kota tempat kelahiranku pak. Sumber masalahnya adalah rasa gengsi yang mendahului pikiran manusia pak, bayangkan ketika setiap orang menuntut hak-haknya tapi mengabaikkan hak orang lain bahkan sampai lalai kewajiban. Makanya pak, sebelum semua telat dan jadi kronis apa iya kota kita bisa dipindah ke tengah laut atau planet lain, nggak kan pak!
Semuanya diawali dari transportasi pak. Lihat aja pak sudah banyak contohnya kalo berita-berita di tv bilang, kapasitas tampung ibu kota sudah tidak memadai karena banyaknya penduduk ditambah dengan kepemilikan kendaraan pribadi yang berlebihan serta teknologi perkotaan yang tidak mendukung. Laju pertumbuhan penduduk dan kendaraan pribadi dengan fasilitas public atau infrastrukutu tidak berjalan beriringan malah infrastruktur ketinggalan jauh. Harusnya kota kita mendahului solusi dari kota kecil untuk negeri. Dan menghilangkan alasan, ini belum waktunya, masih banyak yang lebih penting dari itu dan lain-lain. Padahal dengan masalah transportasi selesai, semua maslah akan terpecahkan karena sejatinya manusia itu makhluk sosial (BERINTERAKSI DAN SELALU BERGERAK). Lha kalo gak leluasa mana bisa masalah lain terpecahkan!! Jadi ini aspirasiku pak. Bukan lagi wacana tapi harus ada pembahasan yang konkrit dan menatap masa depan. Dunia tak lagi bisa menampug keterlambatan pak. Kalo ini jadi solusi bisa dibayangkan betapa kota kita ini yang kecil jadi terdepan dalam perkembangan. Jadi gini pak… (menerawang)
peta mojokerto menyesuaikan jalur tMj (doc. pribadi)
bentuk asli jalur pada peta mojokerto (doc. pribadi)
bus tMj tampak kiri (doc. pribadi)
bus tMj tampak kanan (doc. pribadi)
Bapak bisa lihat anganku itu (menunjuk gambar di atas kepala), dari situlah modernisasi kota tempat kelahiranku dimulai. Ada hal penting yang membuatku berangan dengan semua itu pak. Tentang masa depan, kemajuan kota, kesejahteraan yang merata, kesenjangan sosial yang HARUS hilang, hak setiap warga menikmati fasilitas bisa terakomodir di satu solusi itu sebagai kunci kesejahteraan manusia. Metode penjalanan proyeknya begini pak….
  1. Pengembangan proyek trans Majapahit (tMj) antar kotamadya dan kabupaten HARUS bekerjasama sebagai solusi bersama mensejahterakan masyarakat!!!!
  2. Bentuk armada bisa berupa mini bus atau trem (kereta tengah kota dengan kabel listrik di atas) dan tidak perlu berfikir sampai monorel dengan sumber tenaga fosil (untuk menekan bengkaknya anggaran) dan berangsur ke gas, tenaga surya dan tenaga listrik (sesegera mungkin).
  3. Peralihan sumber daya (2 mikrolet di tukar dengan 1 mini bus, artinya 2 sopir mikrolet berbagi tugas dalam 1 operasional tMj sebagai sopir yang berbagi jadwal (04.00 – 12.30 dan 12.30 – 21.00 WIB) kurang lebih masing-masing 8,5 jam.
  4. Menempatkan mikrolet alih daya sesuai kebutuhan sebagai feeder sesuai rute peta tMj dengan jam operasional yang sama.
  5. Sistem gaji sopir tMj secara bulanan bukan hasil kejar setoran, begitu halnya dengan sopir feeder (mikrolet).
  6. Menetapkan tarif tMj maupun feeder sebesar Rp 1.500  jarak tempuh jauh ataupun dekat dalam satu (1) rute dan tarif meningkat sesuai tingkat pendapatan/upah minimum kota/kabupaten.
  7. Membatasi peredaran BBM subsidi di kota/kabupaten.
  8. Bekerjasama dengan DLLAJ dan kepolisian wilayah kota dan kabupaten untuk memberikan tanda resmi mobil niaga (contoh: mobil box, truk, pick up box  dengan persyaratan, dll).
  9. Menjadikan becak yang masih ada dan tidak menambah armada sebagai transportasi pariwisata di kawasan situs purbakala majapahit (trowulan).
  10. Memberikan keleluasaan becak untuk beroperasi di jalanan kota/kabupaten.
  11. Meniadakan becak bermesin.
  12. Membuat kebijakan bus karyawan pada setiap perusahaan skala industry besar.
  13. Data jumlah kendaraan bermotor (roda 2 dan 4) pribadi di kota/kabupaten.
  14. Naikan harga tiket parkir untuk roda 2 antara Rp 2.000 (lokasi tertentu) -  Rp 5.000 (lokasi tertentu) dari pukul 04.00 – 21.00 WIB.
  15. Naikkan harga tiket parkir untuk roda 4  antara Rp 5.000 (lokasi tertentu) – Rp 10.000 (lokasi tertentu) dari pukul 04.00 – 21.00 WIB.
  16. Khusus mobil niaga diberikan tarif parkir biasa antara pukul 04.00 – 10.00 WIB.
  17. Wewajibkan seluruh PNS (pegawai pemkot/pemkab/kecamatan/guru) kota/kabupaten menggunakan tMj, dan tidak berlaku pada tenaga penyuluh lapangan karena harus masuk sampai ke pelosok dan menggunakan plat merah.
  18. Masih banyak kebijakan lain yang bs direkomendasikan atau dipikirkan.
Kita tidak harus menunggu banjir datang dulu, macet toal datang dulu, kesemrawutan datang dulu, kesenjangan sosial makin dalam lubangnya yang berarti memperlebar jarak antara si miskin dan si kaya arena memupuk rasa gengsi dan bermewah-mewah menggunakan mobil pribadi. Perlu digaris bawahi setiap orang berhak menikmati hasil jerih payahnya, akan tetapi adalah tugas pemerintah sebagai penyelenggara Negara mengendalikan keinginan setiap warganya untuk hidup berdampingan dalam keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan. Maka itu pak, aku berfikir begini karena gak ingin tempat kelahiranku mencetak sumber daya manusia yang menghambur-hamburkan hasil jerih payahnya. Semua tidak akan terlambat jika kebijakan berpihak pada pemerataan dan kesejahteraan. Dengan adanya transportasi umum, kebutuhan dasar manusia untuk melakukan mobilitas perekonomian tidak akan terhambat, mobil adalah konsekuensi bagi setiap pribadi untuk mengeluarkan biaya lebih karena mereka mampu memilikinya dengan berapapun harga belinya dulu yang pasti tidak ada mobil dibawah Rp 20.000.000,- kan, begitu pula motor.
Dengan perkembangan dunia yang pesat dan mobilitas tinggi, aku berharap kota tempat kelahiranku ini memiliki visi kedepan utnuk membangun sarana umum sebagai modal utama melanggangkan keadilan sosial pak. Adanya transportasi umum tidak akan menghalangi penduduknya untuk melakukan aktifitas, interaksi sosial, meningkatkan taraf perekonomian, dan lain sebagainya. Bayangkan berapa dana yang masuk ke kas daerah dengan penggunaan transportasi umum dan membatasi kendaraan bermotor pribadi. Dampak lingkungan yang sehat, membudayakan jalan kaki, pola pikir manusia yang berkembang, perputaran anggaran bisa untuk pembangunan desa tertinggal dan penyediaan rumah layak huni bagi masyarakat kurang mampu dan membudayakan bersepeda atau naik transportasi umum bagi masyarakat dan keluarga modern di masa mendatang dan juga bisa mengurangi beban tamping kota yang makin tua. Aku berharap ini adalah bagian dari VISI MOJOKERTO 2025 dan menjadikan Jawa Timur pelopor provinsi mandiri yang terkoneksi tanpa bus antar kota dalam provinsi. Aspirasi ini baik kiranya diikuti oleh kota-kota lain disekitarnya untuk mempermudah koneksi antar wilayah di Jawa Timur. Membayangkan jika setiap kita berhenti di perbatasan kota sudah ada transportasi masal lain yang menunggu. (Trans Majapahit (Mojokerto), Lamongan Connectivity, Trans Tuban, Gresik Conector, Trans Deltras (Sidoarjo), Malang Armada, Trans Jombang, Monorel Surabaya, Trans Pasuruan, Probolinggo Connector, dll).
Anak 1  : kira-kira begitu pak..
Anak 2  : bengog…
Bapak    : bagus le, jangan menyerah ya untuk menyampaikan aspirasi. Kekuatan tulisan kadang bisa membuat orang bergerak. Terus menulis dan berfikir.
Anak 1  : amin pak
Anak 2  : amiiinnnn..
(senja berlalu dan memasuki waktu magrib, dan semua keluarga bergegas menuju masjid)
KETIKA TRANSPORTASI MASAL ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KELUAR KETIKA TRANSPORTASI MASAL ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KELUAR Reviewed by dikaguzana.blogspot.com on 5:59 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.