Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah.
Sayapun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya.
Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya.
Usiapun kian senja, usaha terkahir saya adalah mengubah keluarga, orang-orang terdekat.
Akan tetapi, lagi-lagi mereka tetap sama dan tak ada yang berubah.
Dan sekarang, saat saya terbaring sekarat di ranjang kematian. tiba-tiba saya menyadari bahwa yang seharusnya pertama kali saya lakukan adalah mengubah diri sendiri.
Kemudian dengan memberikan ketauladanan, saya mengubah keluarga saya.
Dorongan dan inspirasi mereka memungkinkan saya memperbaiki negeri dan siapa tahu saya mungkin bisa mengubah dunia.
- anonim
Perjalanan waktu dan pemahaman…
Perjalanan waktu memberikan bukti nyata sebuah perubahan seperti yang sering kita dengar “tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri”. Menapaki sebuah problematika kehidupan sosial di tengah himpitan perekonomian seperti saat ini yang semakin mencekik sangatlah mungkin untuk sebisa mungkin di hindari oleh setiap orang. Hal ini berakibat pada semakin buruknya kondisi mutu hidup seluruh masyarakat belakangan ini. Dengan kata lain , kecenderungan untuk memusatkan konsentrasi pada kelangsungan hidup pribadi atau individualis akan semakin kuat. Bentuk dorongan-dorangan yang mengakibatkan timbulnya kesenjangan sosial semakin diperkuat dengan pola-pola masyarakat saat ini yang cenderung konsumtif secara berlebihan. Dengan kemampuan ekonomi yang tidak mumpuni yang kemudian mencoba bersaing dengan gengsi dan nafsu diri untuk selalu menunjukkan bukan kemampuan diri sesungguhnya atau dapat dikatakan ”munafik”.
Menuntut adanya sebuah pemahaman serta sudut pandang masyarakat yang berorientasi pada ilmu pengetahuan untuk dapat menjalani berbagai tantangan zaman saat ini. Hal ini sudah menjadi kewajiban bagi setiap individu guna mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Bukan sejauh mana dan seberapa banyak dapat mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadi tetapi sejauh mana peduli dan berkeinginan untuk mensejajarkan atau menyamaratakan kedudukan manusia di seluruh bentuk sudut pandang tanpa terkecuali. Karena pada kenyataannya saat ini, kecenderungan untuk lebih memikirkan bagaimana harus bertahan hidup untuk menjalani kehidupan amat sangat banyak daripada berfikir bagaimana bertahan hidup dan berkembang sesuai dengan potensi yang saya miliki dan kemudian memberikan perubahan pada lingkungan dimana tempat saya tinggal atau berdomisili dan berkreatifitas pada satu masa nanti.
by default atau by design
Sebelum jauh saya membahas tentang lainnya, mari membahas apa itu perubahan. Perubahan berasal dari kata dasar “ubah” yang mendapatkan imbuhan awalan per- dan akhiran -an. Imbuhan per-an berfungsi sebagai pembentuk kata benda. Secara umum, ubah memiliki arti tindakan yang mencerminkan sebuah bentuk dari yang semula menjadi hal yang baru. Dalam kamus bahasa Indonesia, ubah berarti menjadi lain dari semula dan perubahan adalah sesuatu hal yang berubah atau beralih. Perubahan atau berubah adalah tidak sama lagi dengan bentuk semula yang mencerminkan sebuah sesuatu yang baru.
Tak ubahnya sebuah kehidupan manusia yang dimulai dari usia nol, remaja, dewasa, paruh baya, kemudian menjadi tua. Kemana kehidupan kita selama beberapa tahun belakangan ini? Menguap tanpa bekas atau menyertai kita hingga kita meninggal nanti. Berapa usia anda saat ini, 17, 20, 25, 30, 35, dan seterusnya? Kemana kehidupan kita dari nol hingga 17, dari nol hingga 25, dan seterusnya. Setiap kehidupan akan memiliki berbagai banyak kejadian dalam proses perjalanan hidup dan berbeda-beda bagi tiap-tiap orang dan tidak akan pernah sama apa yang dialami tetapi masih mungkin untuk serupa. Kita seperti memilki dua kepribadian, atau kepribadian ganda. Disisi lain, kita menjalani kehidupan dunia kita tapi jangan sekali-kali lupa, kemanakah selama ini kehidupan rohani atau spiritual kita? Itu yang dimaksud dengan kepribadian ganda. Adakah pengaruh yang diberikan pada diri kita tentang dunia spiritual kita. Ketika manusia, sebagai makhluk yang paling sempurna menjalani sebuah kehidupan tidak akan lepas dari nilai-nilai dunia dan akhirat. Tingkah laku kita sebagai manifestasi dari sebuah cerminan lingkungan hidup kita. Percaya atau tidak, apa yang kita lakukan sekarang adalah cerminan sikap manusia yang pernah kita lihat dan rasakan. Tinggal bagaimana anda melihat, merasakan dan kemudian belajar untuk bersikap sebagai perwujudan eksistensi diri kita di lingkungan masyarakat.
Semakin bertambah usia kita, semakin banyak hal yang kita tangkap dalam memori pikiran kita, yang kemudian diolah dalam otak kita dan diproyeksikan dalam bentuk sikap kita di lingkungan masyarakat. Tetapi perlu diingat, kita masih memiliki aspek moral dalam bertingkah laku. Sebelum proyeksi itu keluar dalam bentuk perilaku kita, terdapat semacam system yang akan memfilter apa-apa saja yang baik dan apa-apa saja yang buruk. Itulah sekelumit keterlibatan aspek spiritual kita dalam bersikap. Bercermin dari penjabaran di atas, sebaiknya apa yang harus kita lakukan selama sisa waktu kita di dunia? Sudahkah kita sadar akan posisi kita di dunia, dan sebarapa jauh keterlibatan aspek spiritual kita yang sudah kita alami dari usia nol hingga usia kita sekarang? Sebelum waktu kita habis didunia, ada baiknya kita renungi bersama tentang apa arti perubahan dari dalam diri kita untuk setidaknya hidup kita demi kearifan hidup dan kearifan lingkungan. Sudahkah anda berfikir untuk merencanakan kehidupan kita selanjutnya atau mengalir seperti air? By design or by default, tentukan pilihan anda.
Perubahan… By default or by design?
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
5:49 pm
Rating:
Reviewed by dikaguzana.blogspot.com
on
5:49 pm
Rating:

No comments: